• Terbaru
  • Populer

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (I)

18 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Berita Umum

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

Bagus Dilla Ditulis oleh Bagus Dilla
23 Oktober 2022
dalam Berita Umum, Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 3 menit
A A
177
VIEWS

Hubungan Seks adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dalam prokreasi selain makan, merasa, dan berpikir. Namun, jarang menjadi perhatian sosial, bahkan cenderung diabaikan. Begitu pula, ketika ritual seks dilakukan di kuburan (setra).

Sebelum Islam datang, masyarakat di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, banyak menganut paham Bhairawa. Ajaran yang mengutamakan spiritualitas tubuh. Pada awalnya, ajaran ini cukup religius karena mengandung banyak makna, terutama dalam menyikapi kenikmatan kenikmatan jasmani seperti makan daging, makan ikan, banyak minum, dan berhubungan suami istri. Namun, di kemudian hari dilakukan secara ekstrim ketika ritual seks dilakukan di kuburan.

ArtikelLainnya

Penerbit Penerbit Beramasalah di Indonesia

17 September 2022
141

Revitalisasi Pesantren Pesantren Tradisional

12 September 2022
150

Ketika Susastra Bicara (?)

9 September 2022
140

Ketika Harus Ikhlas Sejak Awal

8 September 2022
137
Tampilkan Yang Lain

Candi Sukuh sebagai Saksi

Ketika ritual seks dilakukan di kuburan, banyak orang tidak tahu, hubungan seks juga melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Namun, gonjang ganjing perjalanan sejarah pada abad ke-15 telah mengakibatkan masyarakat tidak terurus oleh negara sehingga imajinasi sosial terjadi karena ketergantungan yang disandarkan kepada ritual keagamaan. Ketergantungan terhadap ritualitas tersebut menimbulkan berbagai macam “penyimpangan penyimpangan” yang oleh kalangan Hindu-Buddha sendiri ditolak.

Sebab sebab kemunduran Majapahit disebutkan oleh para sejarawan, karena serangan dari kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, Demak. Pendapat yang mulai disanggah oleh teori teori baru oleh kalangan sejarawan belakangan.

Kejatuhan Majapahit disebabkan karena Majapahit sedang mengalami dekadensi moral dan konflik internal.

Jika diamati, candi Sukuh memiliki relief yang menggambarkan kemakmuran melalui seksualitas. Terutama, Lingga (alat kelamin laki laki) dan Yoni (alat kelamin perempuan) pada patung dan relief tersebut yang menunjukkan jika Majapahit sebenarnya sedang mengalami puncak kemakmuran. Sebagaimana berulang kali Kubilai Khan mengirim pasukan coba menaklukkan Nusantara. Kegagalan serangan bala tentara Tatar ke Singasari yang terdiri dari 30.000 pasukan, kaveleri dan infantri, telah memicu amarah yang sangat besar bagi Kubilai Khan.

Dari aspek ini, kemudian pula melahirkan karya sastra pinggiran Gatoloco, Sabda Palon dan Naya Genggong, yang menilai buruk terhadap aktivitas keberagamaan umat Islam. Sebagaimana Islam memandang, seksualitas merupakan hasrat dan nafsu. Bukan bagian dari ritual keagamaan yang vulgar. Islam memandang lembaga perkawinan, pernikahan, beserta aktivitas seksual adalah lembaga sakral dan rahasia. Bahkan, Islam juga mengajarkan tentang adanya mas kawin (shoduqat) yang diberikan oleh pihak laki laki kepada pihak perempuan sebagai buah penghormatan dan kasih sayang.

Tidak berhenti pada relief relief candi Sukuh dan sastra Gatoloco, aktivitas seksual tersebut masih berlaku hingga masa belakangan di Gunung Kemukus. Bahkan, juga di kuburan kuburan di tempat tempat lain dengan tujuan untuk mendapatkan kemudahan dalam menggapai kekayaan.

Islamisasi Kuburan

Pada pandangan umum, candi dianggap sebagai tempat pemujaan atau “rumah ibadah” bagi kalangan Hindu-Buddha. Hal demikian tidak salah, meskipun candi sebenarnya adalah tempat penyimpanan “abu mayit” raja raja pada zaman sebelum Islam. Sebagaimana candi Ngetos merupakan tempat persemayaman abu jasad dari Prabu Hayam Wuruk. Kata “setra” dalam pandangan umat terdahulu bisa berarti sebuah percandian, kuburan. Di candi candi itulah diadakan upacara maithuna, persetubuhan, sebagai rangkaian dari upacara Pancamakara (Ma Lima) yang didasarkan dari laku yoga-tantra.

Sejalan dengan berlangsungnya Islamisasi penduduk Jawa, maka ulama ulama terdahulu menjadikan kuburan sebagai tempat ziarah (the pilgrim) dengan cara melakukan bacaan bacaan tahlil dan doa doa yang dianjurkan bagi umat Islam yang telah wafat. Bahkan, di Jawa juga tetap dilakukan upacara “nadran” atau membersihkan kuburan ketika menjelang bulan puasa.

Ketika ritual seks dilakukan di kuburan, maka seharusnya marak jika Bhattara (Bra) Wijaya telah diperabukan di candi Sukuh tersebut. Sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir. Bukan moksa di Gunung Lawu sebagaimana diungkapkan di dalam narasi Sabda Palon dan Nya Genggong. Meskipun, moksa sendiri dapat dipahami sebagai puncak capaian keruhanian seseorang.

Namun yang jelas, candi Sukuh yang didiirkan pada masa keruntuhan Majapahit tersebut tidak pernah disebutkan sebagai tempat perabuan Brawijaya. Walhasil, ketika ritual seks dilakukan di kuburan, mungkinkah spekulasi cerita Sabda Palon dan Naya Genggong itu tidak pernah ada? Ataukah hanya berupa sanepo sanepo (eufimisme) dalam mengungkapkan fakta sejarah yang sebenarnya? Yang jelas, pergi haji ke Mekah bagi yang mampu sebagai rukun Islam kelima adalah bertujuan ziarah. Sarjana Barat menyebut haji sebagai the pilgrim. Kunjungan ziarah dan napak tilas Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as terhadap leluhur mereka Nabi Adam dan Hawa di Mekah dan Muzdalifah. Dan, disunnahkan untuk berziarah pula ke makam Rasulullah saw di Madinah.

Tag/kata kunci: ketika ritual seks dilakukan di kuburan
Artikel sebelumnya

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

Artikel berikutnya

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

Bagus Dilla

Bagus Dilla

*A writer and culture activities*

Artikel Lainnya

Kenangan Singkat Bersama Ahmad Tohari

7 September 2022
142

Nyanyian Calung dari Balik Bukit Cibalak   Jumpa pertama pada kesederhanaan. Dari pakaian dan khas kiai ndeso. Apakah dia seorang kiai?...

Selanjutnya

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
147

Mereka Hadir Sebagai Pelengkap Teman bilang, kalau ingin melihat realitas, lihatlah perkampungan lokalisasi. Di sana, kemiskinan akan tergambar jelas. Mereka tidak...

Selanjutnya

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
138

Eits! Jangan berprasangka dia brondong! Bondong tidak termasuk dalam kepercayaan tertentu. Klenik atau takhayul. Tapi, kebiasaan di tempatku yang suka membuat...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
137

Pembatasan Pembatasan Belanda Dalam tulisan Zamakhsyari Dhofier (2011) disebutkan: Belanda telah memberi pembatasan pembatasan terhadap Islam sejak kedatangannya hingga abad ke-19....

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
143

Akar Sejarah Intelektual Pesantren Disiplin keilmuan pesantren memiliki perbedaan dengan disiplin keilmuan pada umumnya. Disiplin keilmuan pesantren memiliki ciri-ciri: 1) transfomastif;...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
148

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
185

Pendahuluan Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
142

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply