Rasanya tak lazim semalam. Ada yang aneh. Sejak beberapa hari sebelumnya, atau malah dari sebulan yang lalu, saya tidak merasakan hingar bingar aroma “ritual pertunjukan” bangsa ini di setiap akhir September.
Atau mungkin saya yang tidak memerhatikan keriuhan gairah untuk menayangkan kembali film “G-30S PKI” atau demo antikomunisme yang seringkali banal dan palsu itu. Yang banyak muncul dan diberitakan kemarin, konon tentang “pengkhianatan rezim” terkait BBM dan HAM. Entahlah…
Wacana atau diskursus perihal tragedi 65 itu, seiring waktu, memang mengalami perubahan. Dulu, ketika kelas 2 SMP, kami dipaksa untuk nonton film berdurasi panjang tersebut. Benar-benar pengalaman traumatis, membekas, dan ngilu. Hingga hari ini, saya tak pernah sudi menonton film itu lagi. Hanya cuplikan-cuplikan singkat, itupun jika situasi tak terelakkan.
Hegemoni nalar dan psikis, juga modus teror, maupun penebaran-penanaman ketakutan kepada generasi saya, terbukti berhasil. Banyak adegan di film itu yang hampir mustahil saya lupakan. Mengendap, menempel, menjadi kerak hitam ingatan, bahkan kesadaran.
Sementara itu, pada perkembangannya, sangat banyak riset atau penelitian, kajian, analisis, kesaksian, maupun bukti-bukti baru: bahwa tragedi berdarah tersadis dengan korban terbanyak dalam sejarah bangsa ini, tak pelak merupakan suatu rekayasa besar antarpihak yang sama-sama rela menumpahkan lautan anyir darah, pencerabutan nyawa semena-mena, meluluhlantakkan ikatan kemanusiaan, menghapus dan mengabaikan hukum keadilan. Di benak bayangan saya: beberapa ular besar saling membelit, menggigit, memagut, sambil menguntal korban-korban di antara mereka. Dengan ekor-ekornya, ular-ular itu menulis sejarah bertinta darah. Isinya? Tentang betapa bangganya, betapa tega dan biadabnya diri sang ular masing-masing!
Sebagai gantinya, lantas apa yang kami nikmati di 30 September malam kemarin?
Sebuah janji untuk bertemu, datang dari beberapa sahabat. Niat dan tujuannya jelas dari awal: membincang budaya, seni, khususnya sastra. Dan Alhamdulillah – Puji Tuhan, hajat kecil ini terwujud.
Karena sadar sepenuhnya, bahwa masing-masing kami bukanlah maestro besar di kehidupan jagad sastra, maka perbincangan (pun pergunjingan) mengalir, melewati arus kecil dan ceruk-ceruk aliran sungai seni-budaya sastra seadanya. Semampunya.
Obrolan ini laksana menikmati kenduri dengan lauk aneka ragam dari kebun yang kami miliki. Mencecap dan saling berbagi kisah-kisah tentang kalangwan, pujangga, sastrawan, penyair, krititikus sastra, penulis, penghayat, penggerak, peminat, juga pemerhati susastra.
Ada hidangan genre, gaya, aliran, teori, sejarah, periodesasi, serta rumus atau patokan-patokan karya sastra, seperti yang dipakemkan di macapat, gurindam, dan lain-lain. Terbukti patok-patok, rambu-rambu, semua aturan itu tidak memenjarakan para penciptanya dalam batas atau sekat yang mengikat. Karya-karya sastra klasik-lama, tradisional, kuna, justru memancarkan cahya begitu benderang nan abadi.
Kami mengunyah dan menapakjejaki keragaman ide, imajinasi, lompatan pemikiran –tentunya dalam batas-batas perabaan kami– dari para dewa sastra: Chairil, Subagyo, Sapardi, Surendra, Sutarji, Budi Darma, Umar Khayam, Seno Gumira, dan lainnya. Juga menyinggung Attar, Umberto, Hemingway, Sartre, Toelkin, Rowling, maupun Dan Brown.
Ada kegamangan. Keraguan. Ketidaktahuan. Keterbatasan. Selain spirit dan semangat.
Apa yang dihasilkan, yang dirumuskan? Sederhana: ajakan bersama-sama untuk bergerak, mencipta, berkarya dalam sastra. Namun kita paham, yang sederhana itu adalah yang paling sulit untuk dilakukan.
Hanya saja, bukankah kita harus tetap berjalan dan memilih serta menentukan takdir kita sendiri? Bukankah kita tetap harus bertahan dan memilih untuk terus belajar hingga usai hayat kita?
Setidaknya, di 30 September malam, kami memilih takdir untuk tidak larut –sebaliknya menolak-melawan– dari hegemoni menikmati bau mayat yang ditebarkan di media oleh beberapa jiwa yang penuh hasrat kekuasaan.
Terbukti. Lebih nikmat kenduri budaya. Ketimbang melahap sajian ciptaan ORBA.
Tabik.
30 September 2022
Diangkat dari tulisan Iskak Wijaya

























