• Terbaru
  • Populer

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (I)

18 September 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Nasional

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (I)

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
18 September 2022
dalam Nasional
| Waktu baca 3 menit
A A
152
VIEWS

Restorasi Meiji (1866-1869) yang diprakarsai oleh Kaisar Meiji merubah arah sejarah suku-bangsa Jepang untuk memodernisasi diri. Hal ini terjadi setelah masa pemerintahan penuh intrik yang dikuasai oleh para-Shogun berakhir. Shogun adalah panglima kekaisaran Jepang yang mengambil peranan cukup penting dalam melemahkan kaisar. Sejak Abad ke-12 hingga abad ke-19, Kekaisaran Jepang di bawah pengaruh para-Shogun ini menerapkan kebijakan “defensif” menutup diri (sakoku) dari pengaruh asing.

Meskipun, kaisar pada masa para-Shogun tersebut masih berkuasa, namun konflik internal dan korupsi tidak dapat dicegah. Walhasil, Kaisar Meiji membuka kran bagi pelabuhan pelabuhan di Jepang untuk dikuasakan asing.

ArtikelLainnya

Amplop Kiai dan Korupsi

25 Agustus 2022
146

Fakta Miris Rumah Tinggal Layak Huni Shiddiqiyyah

22 Agustus 2022
141

Shiddiqiyyah Bangun 1167 Unit Rumah Layak Huni

21 Agustus 2022
162

Negara Kesatuan Republik Indonesia Samasekali Tidak Pernah Dijajah

21 Agustus 2022
162
Tampilkan Yang Lain

Dampak dari hasil Resolusi Meiji adalah, pertama, berakhirnya masa feodalisme (penguasaan atas tanah) dan diganti dengan sistem administrasi, kedua, Jepang kemudian berhasil merumuskan konsep Undang Undang seperti di negara negara Eropa, ketiga, Jepang dari agraris menjadi negara industri, keempat, dari  suku-bangsa terbelakang menjadi maju, kelima, memfasilitasi transportasi dan komunikasi untuk memperlancar aktivitas aktivitas sosial dan ekonomi, dan keenam, Jepang memiliki kekuatan militer terkuat dan termodern di Asia pada awal abad ke-20.

Di samping menyisakan efek efeks negatif seperti hilangnya hak hak tradisional bagi kalangan daimyo (tuan tanah) dan kalangan samurai, Jepang tampil sebagai negara imperialis pada Perang Dunia II, dan berhasil menduduki China (1931), Korea (1930), Hongkong dan Indonesia (1942).

Namun, yang sering menjadi catatan pengamat budaya dan ekonomi, Jepang terbilang cepat bangkit dalam keterpurukan, terutama pada setelah peristiwa bom atom 1945.

Mempertanyakan Konsep Bernegara

Muncul pertanyaan dari kesiapan suku-bangsa Indonesia dalam membentuk negara dari sebagian kalangan. Sebab, hingga Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Hatta menyatakan “kemerdekaan bangsa Indonesia”. Begitu pula, Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, menyebutkan: “Tanah air yang satu”, “Bangsa yang satu”, dan “Bahasa yang satu”. Tidak menyebutkan “Negara yang satu”.

Dari pertanyaan tersebut, setidaknya, dapat dipahami: titik tolak analisis sejarah Indonesia selalu diawali dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebelum tanggal tersebut, belum ada Indonesia, bahkan bangsa Indonesia. Yang ada adalah negara negara berdasarkan kesukuan dan wilayah di satu sisi, sementara Pemerintah Hindia Belanda dan Pemerintah Pendudukan Jepang di sisi yang lain.

Memang, pada saat itu, masalah bangsa Indonesia menjadi prioritas untuk menegaskan identitas kebangsaan dan mengikis habis sekat sekat perbedaan. Namun, bukan berarti konsep negara tidak sama sekali dibicarakan. Meskipun, pada proses berikutnya, konsep konsep tersebut mengalami “masa uji berlaku” seperti rancangan rancangan yang menjadi agenda agenda politik di meja meja perundingan berikutnya dan pemberontakan pemberontakan yang tidak sevisi mengenai bentuk dan konsep negara tersebut.

Secara referensial, konsep bernegara tersebut sudah menjadi bahan pembahasan ulama ulama tradisional yang memiliki kepedulian berbangsa dan bernegara. Hal ini dibuktikan dengan hasil Muktamar NU di Banjarmasin pada 1936, kemudian Muhammadiyah dengan membentuk Majelis Tarjih pada 1939.

Tentu, tradisionalisme Indonesia berbeda dengan tradisionalisme Inggris atau Jepang di dalam merespon modernitas. Inggris dan Jepang di satu sisi masih mempertahankan sistem tradisional kekaisaran (kingdom), sementara tradisionalisme di Indonesia didorong oleh semangat dakwah dan antikolonialisme sehingga meninggalkan tradisionalisme seperti yang berlaku di Inggris dan Jepang di sisi yang lain.

Mengapa Muhammadiyah masuk ke dalam kategori tradisional dalam pembahasan ini. Pertama, semangat pembaharuan yang diusulkan oleh Muhammadiyah untuk kembali kepada al Quran dan hadis yang merujuk kepada tradisi Islam pada masa awal ketika di Mekah dan Madinah. Kedua, kultur masyarakat warga Muhammadiyah tidak sedemonstratif seperti yang dilakukan oleh kalangan warga Salafi-Wahabi yang mengabaikan referensi referensi keislaman dari masa kerasulan Muhammad saw hingga 200 tahun setelahnya yang dikenal dengan sebutan tradisi Salaf atau Salafiyah. Dan, ketiga, modernisasi pendidikan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, terutama di Yogyakarta, adalah dalam rangka menghadapi kemajuan sekolah sekolah bentukan Pemerintah Hindia Belanda dan nonmuslim. Kemajuan modernitas pada Muhammadiyah sama seperti capaian yang diraih dan dilakukan oleh Mesir dan Turki dalam mereformasi administrasi dan birokrasi lembaga lembaga pendidikan.

Tag/kata kunci: Kaisar MeijiMuhammadiyahNUProklamasiRestorasi Meiji
Artikel sebelumnya

Penerbit Penerbit Beramasalah di Indonesia

Artikel berikutnya

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

10 Agustus 2022
165

Pada Haul KH Zainuddin Djazuli di Pesantren Plosomojo, Kediri, Buya Said Aqil Siroj menyebutkan potensi besar yang dimiliki oleh pesantren, berupa...

Selanjutnya

Pesantren: Subkultur yang menjadi Perhatian

6 Agustus 2022
153

Untuk menulis lembaga pendidikan secara umum dan macam macamnya, maka ditulis menjadi "pendidikan Islam". Sementara pesantren memiliki ciri khas tersendiri dengan...

Selanjutnya

Sosialisasi Program dan Pembentukan Majelis Mujahid NKRI

4 Agustus 2022
139

Indramayu-Net26.id - Ketua Majelis Mujahid NKRI Indramayu, H Cecep, Kamis, 4/8/2022, secara aklamasi membentuk kepengurusan dan memimpin rapat sosialisasi program. Dalam...

Selanjutnya

Buya Uki: Pesantren Mati Karena Tidak Ada yang Istiqamah

1 Agustus 2022
146

Indramayu-Net26.id - Perkembangan sebuah pesantren sering mengalami pasang surut, karena biasa tergantung pada satu sosok figur. Hal ini menjadi perhatian serius...

Selanjutnya

Launching Kopi Dingin, Hj Eti Hermawati Harapkan UKM Tumbuh Signifikan

31 Juli 2022
138

Cirebon-Net26.id - Penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) nasional, Buya Uki Marzuki, memandang Cirebon akan menjadi ikon budaya yang signifikan. Hal...

Selanjutnya

Buya Uki: Kopi Dingin Hindari Dehidrasi di Kota Cirebon

31 Juli 2022
133

Cirebon-Net26.id - Hadir di Kota Wali Cirebon akan disajikan oleh suguhan khas atas keragaman. Keragaman itu tidak saja berupa suku-bangsa saja,...

Selanjutnya

Buya Uki Sambut Dr (HC) dr HR Agung Laksono di Cirebon

30 Juli 2022
133

Cirebon-Net26.id - Dalam suasana pulang kampung yang ceria, pertemuan silaturahim itu berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan di salah satu hotel ternama...

Selanjutnya

Buya Said Aqil Siroj, The Next Little Soekarno?

14 Juli 2022
168

Putra Sang Fajar itu telah memberi kharisma besar bagi suku-bangsa Indonesia di tengah-tengah kancah dunia. Ia menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika di...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply