Setiap suku-bangsa memiliki cara sendiri sendiri dalam mempertahankan diri dari serangan musuh sebagaimana suku-bangsa Arab memiliki cara sendiri berlindung dari balik badai pasir gurun ketika diserang musuh. Dengan cara berlindung dari badai tersebut, suku-bangsa Arab dapat mengecoh dan sulit ditembus oleh serangan musuh. Dengan demikian, benteng alam, rumah perlindungan raja raja Nusantara dari serangan musuh dapat dipastikan memiliki cara sendiri dan berbeda dari suku-bangsa lain di dunia.
Antara Sejarah Manusia dan Sejarah Agama
Titik lemah sejarah Nusantara adalah kurang memperhatikan keunikan keunikan yang dimiliki oleh kebudayaannya. Misal, ketika satu suku-bangsa tidak memiliki istana bertiang tembok tidak dianggap tidak memiliki kebudayaan dan kerajaan sendiri. Padahal, soal ada dan tidak adanya istana bertembok tersebut hanya persoalan gaya dan budaya.
Dari sini, peran sejarah manusia dapat dipandang penting dalam menguak budayanya diantaranya adalah masalah benteng alam, rumah perlindungan raja raja Nusantara dari serangan musuh.
Pada awalnya adalah kepercayaan kepada ruh leluhur nenek moyang sehingga puncak gunung yang tertinggi dianggap sebagai kayangan (ka-hyang-an). Tempat persemayaman ruh ruh nenek moyang tersebut. Di puncak gunung tersebut, banyak terdapat batu batu besar (megalitikum) sebagai petanda adanya kuburan.
Pada masa berikutnya, kebudayaan terus berkembang sejalan dengan interaksi antarmanusia yang kian intensif melalui perdagangan dan pengungsian. Di satu sisi, suatu suku-bangsa mengadakan pertukaran barang (barter) sebelum mengenal matauang. Sejalan dengan sejarah berikutnya, uang menjadi alat pertukaran. Sementara di sisi yang lain, pengungsian dapat terjadi manakala daerah asal dinilai tidak aman, baik karena serangan dari musuh maupun karena bencana alam.
Sejarah manusia berawal ketika dilihat dari suatu tempat ke tempat lainnya. Sejarah ini bisa bermula dari ditemukannya situs situs manusia purba hingga perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat berikutnya dalam kurun waktu tertentu. Dari penemun penemuan arkeologis, baik berupa kerangka tubuh maupun benda benda tinggalan, baru dapat dilihat ciri ciri dan identifikasi budayanya.
Suku-Bangsa Melayu sebagai Penyebar Budaya
Untuk kasus di Nusantara, baru dikatakan manusia sejarah setelah mengenal aksara. Masa sebelum mengenal aksara tersebut dinamakan Masa Praaksara (dulu disebut Prasejarah). Jadi, meskipun, manusia pada masa Megalitikum yang hidup di gunung gunung sudah mengenal budaya batu besar sebagai penanda kuburan, tetap belum dianggap sebagai manusia sejarah. Manusia dalam terma ini, manusia baru benar benar dikatakan sebagai makhluk sejarah manakala sudah mengenal aksara. Dan, manusia yang sudah mengenal aksara biasanya sering merujuk kepada salah satu agama tertentu. Dari sini, sering muncul kerancuan dan tumpang tindih sejarah manakala sejarah manusia dicampur aduk dengan sejarah agama tertentu, biasanya melalui mitologi dan dongeng dongeng. Walhasil, sulit dibedakan antara sejarah beserta bukti buktinya dengan mitologi dan dongeng dongeng. Meskipun, pada masa terakhir ini, mitologi dan dongeng tersebut dapat dijadikan sebagai jalan pembuka bagi fakta fakta sejarah. Sebab, sebuah tinggalan sejarah seperti prasasti tidak akan bisa berbicara tanpa didukung oleh mitologi, dongeng, atau pun legenda.
Terdapat beberapa teori yang menyebutkan asal usul suku-bangsa Melayu di Nusantara. Pertama, manusia Melayu Purba (Proto-Melayu) yang datang dari Yunnan, India Belakang atau sisi selatan China. Kedua, kebudayaan Bacson-Hoabinh yang diperkirakan berasal dari tahun 10.000 – 4000 sebelum Masehi, kira kira tahun 7000 sebelum Masehi. Dilansir dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/menelusuri-tradisi-lisan-warisan-kebudayaan-dongson-dan-bacson-hoabinh-tradisi-lisan-dalam-ritual-asyeik-kerinci/; kebudayaan ini berlangsung pada masa Holosen. Ketiga, kebudayaan Dongson ketika manusia sudah mengenal budaya perunggu yang berkembang di Lembah Sông Hồng, Vietnam. Kebudayaan ini berkembang di Asia Tenggara, termasuk di Nusantara dari sekitar 1000 SM sampai 1 SM. Kebudayaan Dongson ini berawal dari evolusi kebudayaan Austronesia. Asal usulnya berasal dari suku-bangsa Yue-tche, suku-bangsa yang muncul di barat daya China sekitar abad ke-8 SM.
Demikian, asal usul suku-bangsa Melayu yang telah banyak membentuk warna dan formula kebudayaan di Nusantara. Dalam zaman yang dekat, mereka dapat dilihat dari warna kulit, fostur tubuh, dan kebiasaan kebiasaan. Suku-bangsa inilah yang senantiasa berinteraksi dan membangun budaya baru dari hasil hasil asimilasi dan akulturasi. Di dalam kisah kisah yang berkembang di Pulau Jawa masih sedikit budaya Melayu diberi porsi, kecuali pada Dinasti Sailendra. Padahal, masih banyak kisah kisah yang mengiringi jalan sejarah Manusia Melayu di Pulau Jawa.
Kepercayaan dan Kerajaan
Dalam kajian sejarah, terdapat ruang yang terpikirkan dan tidak terpikirkan. Ruang ruang yang terpikirkan biasanya termaktub atau tertulis, baik di atas batu batu prasasti, lontar, maupun kertas. Sementara yang tidak terpikirkan, bisa tersimpan di dalam memori memori dan imajinasi sosial suatu suku-bangsa. Sejarah agama memang tidak sedikit di dalam menyumbangkan perkembangan sejarah manusia. Dengan sejarah agama, manusia dapat mendapat inspirasi baru di dalam menata budaya. Namun, terlalu tenggelam di dalam sejarah agama juga tidak terlalu baik, karena subjektivisme akan sangat berperan besar.
Pada masa praaksara, manusia purba mencari perlindungan dari goa goa sebagai tempat tinggal, kemudian membangun rumah rumah kayu bertiang agar tidak diserang oleh binatang buas. Dari goa goa tersebut, yang biasa terletak di lereng lereng gunung; benteng alam, rumah perlindungan raja raja Nusantara bermula. Dari gunung gunung tersebut, manusia purba membangun kepercayaan yang lebih akrab. Maka, tidak heran, jika kemudian muncul hutan hutan larangan karena dianggap sebagai tempat perlindungan raja raja pada masa lalu.













