Dalam agenda memanusiakan manusia, diantaranya melibatkan teks sebagai bagian inhern dari manusia. Jadi, teks tidak terpisah dari subjeknya.
Bahasa Membawa Emosi dan Sentimen
Rasa superioritas dapat ditimbulkan dari bahasa. Kemajuan kemajuan pesantren modern lebih sering ditandai dengan adanya fasilitas fisik, dari sarana dan prasarana yang lengkap. Pun, penggunaan bahasa, utamanya bahasa Inggris dan Arab, sebagai ruang pengetahuan yang bersifat baru.
Pada ruang pengetahuan yang baru tersebut, tidak jarang pesantren modern mengalienasi atau mengasingkan diri dari masyarakatnya. Memang, risiko yang dibangun oleh sebuah pesantren modern adalah mengasingkan diri dari lingkungan sosialnya sebagaimana pola pendidikan tertutup, isolasi dan karantina. Maka, tidak heran, jika kemudian pesantren model ini sering disebut oleh parasantrinya sebagai “Penjara Suci”.
Dari bahasa tersebut, kemudian semangat internasionalisme tidak saja merambah pendidikan pesantren modern. Hal serupa juga terjadi di perguruan perguruan tinggi yang coba menyediakan fasilitas fasilitas beasiswa ke luar negeri, baik disponsori oleh negara, mandiri, atau biaya ditanggung oleh negara negara penyedia beasiswa. Sehingga setiap lembaga pendidikan belakangan ini, baik pesantren maupun nonpesantren berlomba lomba untuk meningkatkan kualitas bahasa yang digunakan.
Hanya saja, semangat internasionalisme pesantren sering terkesan mengabaikan semangat sosial untuk pemenuhan kebutuhan lokal atau daerah masing masing. Di samping itu, semangat internasionalisme juga sering mengafirmasi perbedaan faham kemazhaban pada bidang hukum Islam (fiqh) yang menjadi ciri khas bagi pesantren pesantren tradisional. Mereka senantiasa menghindari ikhtilaf, meskipun mereka tidak menolak secara terang terangan faham bermazhab. Maka, ketika mereka kembali ke masyarakat jarang menjadi tokoh masyarakat karena tidak betul betul memahami perbedaan faham mazhab ini. Kalaupun cita cita melanjutkan studi ke luar negeri tidak tercapai, alumnus pesantren modern ini lebih banyak terjun di dunia birokrasi dan pemerintahan.
Butuh Ciri Khas dan Produk Unggulan
Masihkah sebuah pesantren memiliki spesifikasi sendiri untuk menegaskan corak dan identitas pada zaman sekarang?
Idealnya setiap pesantren memiliki ciri khas masing masing, tapi pada tingkat “advance” seperti spesial di bidang bahasa, teknologi, Al Quran, hadis, maupun berbasis kitab kitab kuning tertentu. Tapi, untuk tingkat standar, semua pesantren bisa menyeragamkan kurikulum. Apalagi sudah mulai disadari, perbedaan antara ilmu ilmu yang bersifat alat dan ilmu ilmu yang bersifat untuk umum.
Pada titik ini, mulai disadari pula, hampir tidak ada perbedaan antara pesantren yang menamakan diri Salafiyah (tradisional) dan Khalafiyah (modern). Bahasa yang digunakan dan menjadi ciri khas pesantren, baik tradisional maupun modern, dilihat dari kebutuhannya hanya berbeda pada semangatnya saja. Semangat internasionalisme dan semangat lingkungan (lokal). Tidak jarang sudah, santri santri alumni pesantren tradisional juga mampu menembus beasiswa perguruan perguruan tinggi di luar negeri, baik di Timur Tengah maupun Amerika dan Eropa. Tidak sedikit dari santri santri tradisional yang mampu menguasai bahasa asing. Dengan demikian, baik tradisional maupun modern saat ini bisa dikatakan sama sama menjadi tradisional, hanya berbeda orientasi yang bersifat nasib masing masing individu.
Karena perbedaan yang sudah mulai menipis ini, pesantren, baik tradisional maupun modern, mulai meratifikasikan diri. Membuat standar yang disesuaikan dengan lingkungan masyarakat Indonesia. Mereka tidak mengisolasikan diri lagi, melainkan coba membuka diri sesuai dengan tantangan masyarakat dan perubahan situasi sosial dan politik di Indonesia. Terutama, dalam penerimaan konsep “nasionalisme”.
Kebumen, 12 September 2022.
























