Pada umumnya, umat Islam memahami kitab kitab suci Taurat, Zabur, dan Injil sama dan sejajar dengan Al Quran. Kitab kitab suci tersebut diturunkan kepada Nabi Musa as, Nabi Daud as, dan Nabi Isa as. Hanya saja, dipahami jika kitab kitab suci tersebut suda dirubah pada masa masa sesudahnya. Maka, jangan heran jika masih ada sarjana sarjana muslim yang salah kaprah membuat suatu perbandingan antara Al Quran dan kitab kitab yang dianggap suci oleh umat selain Islam pada zaman sekarang.
Perintah Beriman kepada Al Kitab
Percaya dan yakin kepada kitab kitab terdahulu merupakan salah satu dari Rukun Iman di dalam Islam. Sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Quran surat Al Nisa ayat 136.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا
Hai orang orang yang beriman, berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat malaikatNya, kitab kitabNya, rasul rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah sesat sejauh jauhnya.
Jadi, penegasan beriman kepada Al Kitab adalah mutlak yang tidak bisa ditolak. Hanya saja, rupa, bentuk, serta tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kitab kitab suci tersebut ketika diturunkan berbeda dengan Al Quran. Lagi pula, penyebutan “Kitab Zabur”, “Kitab Taurat”, dan “Kitab Injil” di dalam satu rangkai kata yang terpisah. Artinya, “Al Kitab” memiliki makna sendiri, “Zabur” punya makna sendiri, “Taurat” punya makna sendiri, “Injil” punya makna sendiri. Bagitu pula, ketika disebut “Suhuf Ibrahim” dan “Suhuf Musa”. Historisitas Zabur, Taurat, dan Injil memiliki peran berbeda beda.
Zabur sering disamakan dengan istilah kata dari bahasa Ibrani “zimra” yang berarti “lagu atau musik”, kompilasi atau antologi. Turunan kata Zimra juga berkonotasi pada “zamir” dan “mazmur”, yang berarti lagu atau kumpulan lagu, album. Dan, bisa diartikan pula sebagai lagu (nyanyian) pujian, baik melalui syair syair maupun dengan irama irama musik. Dalam konteks Zabur ini, Al Quran dalam surat Al Isra ayat 55 menyebutkan;
وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِمَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيّٖنَ عَلٰى بَعْضٍ وَّاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًا
Tuhanmu lebih mengetahui semua yang (ada) di langit dan di bumi. Sungguh, telah Kami lebihkan sebagian nabi nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”
Hal yang menarik dari konteks kebahasaan Al Quran tersebut dapat dibaca dari penafsiran Prof. Quraish Shihab berikut;
Tuhanmu lebih tahu tentang siapa dan bagaimana keadaan yang ada di langit dan di bumi. Atas dasar itu Dia memilih siapa saja di antara mereka yang dikehendaki untuk menjadi Nabi-Nya. Dia telah memilihmu, Muhammad, untuk membawa pesan-pesan suci-Nya. “Maka tidak dibenarkan bagi mereka terlalu berlebihan dalam memandang kenabianmu itu”. Para nabi itu tidak sama keutamaannya di sisi Allah. Sebaliknya, sebagian mereka lebih utama daripada yang lain. Allah mengutamakan sebagian nabi dari yang lainnya dengan “sejumlah mukjizat dan banyaknya pengikut”, “bukan dengan kerajaan”. Sedangkan Dâwûd, keutamaannya adalah bahwa ia diberi Zabûr, bukan karena “kerajaannya”. Oleh karena itu, jangan heran kalau kamu mendapat keutamaan yang besar berupa al-Qur’ân. (tanda petik dari penulis).
Dari tafsir Prof Quraish ini ada yang bisa dipetik: pertama, umat Islam tidak dibenarkan untuk berlebihan memandang kenabian Nabi Muhammad saw dari aspek historisitasnya, kedua Nabi Muhammad saw telah diberikan banyak mukjizat dan pengikut, bukan dengan kerajaan sebagaimana Daud as. Dan, ketiga, Al Quran mempertegas kritiknya: baik Al Quran maupun Zabur adalah bahasa kemanusiaan dalam menyapa Tuhan mereka. Bukan sebagai legitimasi untuk membangun sebuah kekuasaan.
Dari sini, dapat dipahami, jika Zabur kemudian Taurat dan Injil menjadi alat untuk melegitimasi adanya sebuah kekuasaan dalam sejarah manusia dan agama. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan sejarah berikutnya, Firaun dan Herodes yang merasa kerajaan keduanya terganggu.
Maka, berikutnya, Taurat berisi tentang cahaya kebenaran, kisah perjalanan Bani Israil dan kekejaman Fir’aun.
Taurat bisa dikatakan sebagai leges “Surat Keterangan Tanah” yang diperuntukkan bagi Bani Israil. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 44;
إِنَّآ أَنزَلْنَا ٱلتَّوْرَىٰةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسْلَمُوا۟ لِلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلْأَحْبَارُ بِمَا ٱسْتُحْفِظُوا۟ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُوا۟ عَلَيْهِ شُهَدَآءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا۟ ٱلنَّاسَ وَٱخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِى ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ
Sungguh Kami telah menurunkan Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang orang Yahudi oleh nabi nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang orang alim mereka dan pendeta pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang orang yang kafir.
Sementara, Injil diambil dari bahasa Yunani “euangelion” yang berarti “Kabar baik”. Injil merupakan keterangan penegasan terhadap Taurat yang telah diberitakan kepada Musa as. Sebagaimana dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 46;
وَقَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ ۖواٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ فِيْهِ هُدًى وَّنُوْرٌۙ وَّمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَۗ
Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, Taurat. Dan, Kami telah memberikan kepadanya Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Taurat. Dan, menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”
Kitab Suci sebagai Bahasa Komunikatif
Kitab suci yang masih bisa terlacak sejarah pembukuannya adalah Al Quran. Sementara, kitab kitab suci yang lain tidak. Kenapa demikian? Karena, tradisi memaknai kitab suci Al Quran berbeda dengan tradisi yang berlaku bagi kitab kitab suci yang lain. Apa contohnya? Istinbath, penggalian hukum dari kitab suci Al Quran.
Pada dasarnya, kitab kitab suci yang diwahyukan kepada nabi nabi dan rasul rasul adalah bahasa komunikasi Allah kepada umat manusia. Manusia diajak berdialog. Tapi, belum ada perintah untuk membukukan kitab kitab suci tersebut sebagai sebuah dokumen (korpus) yang harus dipatuhi. Tidak demikian. Umat umat terdahulu hanya diperintahkan untuk patuh kepada pemimpin pemimpin, nabi nabi, dan rasul rasul mereka.
“Kitab kitab suci” sebelum Al Quran dengan tanda petik hanya sekumpulan kisah kisah susastra yang banyak terserak. Sama seperti buku buku susastra yang tersebar pada umumnya. Cerita yang berangkat dari mulut ke mulut, kemudian ditulis berdasarkan imajinasi penulis penulisnya. Penulis penulis tersebut tentu ada yang jujur dan benar sehingga dinamakan nabi atau rasul, juga ada yang sebaliknya. Suka memutarbalikkan fakta. Ini yang dikritik oleh Al Quran.
Berbeda dengan Al Quran yang sejak pertama diturunkan sudah diperintahkan untuk dibukukan. Oleh karena itu, pembukuan Al Quran dengan berbagai disiplin penulisan tafsir tafsirnya menjadi sangat rapi hingga sekarang.
Gampangnya, umat Islam diperintahkan untuk membaca dan menafsirkan kitab suci Al Quran, bukan membaca dan menafsirkan kemanusiaan, kenabian, dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Di sini, titik perbedaan antara Al Quran dan “kitab kitab suci” sebelumnya. Al Quran bukan sebuah “Biografi Muhammad”, melainkan biografi semua manusia.
Sebagaimana disebutkan sebuah hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Pembacaan Zabur dimudahkan bagi Daud. Dia sering mengarahkan agar binatang tunggangannya diletakkan pelana, dan mampu menghabiskan bacaan Zabur sebelum pelana siap diletakkan. Dan, dia tidak akan makan tetapi hasil dari kerjanya sendiri.”
Dengan demikian, perlu sebuah rekonstruksi pemahaman terhadap kata “Al Kitab” seperti yang disebutkan oleh Al Quran. Al Kitab tersebut perlu dikembalikan kepada makna secara esensial “الذى يكتب فيه”, “sesuatu yang tertulis padanya”. Berbeda dengan kata Al Kitab yang ditujukan kepada Al Quran sebagai “kitab yang ditulis” dan dibaca. Artinya, sejak awal diturunkan, Al Quran sudah berupa kitab yang ditulis, bukan ditulis setelah kemudian.
Al Quran tidak menghapus (menaskh) kitab kitab (catatan catatan) terdahulu. Sejauh ini, kritik pedas dan penolakan keras Al Quran terhadap hal hal yang mengingkari kodrat kemanusiaan, seperti kekuasaan manusia yang absolut atau LGBT sebagai tindakan tindakan menyimpang (heresi).
Wallahul musta’an.

























