Kita mungkin sepakat, kalau rezeki itu kuasa Allah Taala. Seberapa keras kita bekerja, belum tentu Allah memberikan yang kita inginkan. Maka, saran seorang teman, ikhlaslah sejak awal. Karena, Allah lebih tahu yang kita butuhkan.
Logika yang Bisa Kecelik
Manusia memang dianugerahi akal dan pikiran untuk menentukan jalan hidupnya. Bahkan, ada beberapa ayat Al Quran yang memerintahkan manusia untuk memaksimalkan akalnya. Sehingga dengan akal itu manusia dapat merancang sendiri jalan hidupnya. Tentu, hal ini menjadi kontradiktif pada level “kuasa Allah” dan “kuasa manusia”. Ini persoalan teologis.
Di zaman ini, semua orang hampir bertindak dan berlaku rasional. Semua pertimbangan berdasarkan pada akal. Benar dan salah. Rezeki dan bukan rezeki. Iseng. Jika tidak berhasil karena kalkulasinya salah, maka akan gampang menyalahkan orang lain dan keadaan. Lihat saja kenyataan orang ketika melihat situasi moneter dan ketersediaan minyak. Semua mengeluh. Padahal, tanpa moneter dan minyak, orang orang zaman dahulu masih bisa hidup dan bertahan.
Itu, kan, dulu? Sekarang, kan, zaman berubah?
Akal lagi yang menjawabnya. Suka membeda bedakan keadaan. Apakah sekarang hal demikian sudah tidak ada di zaman sekarang? Berapa banyak saudara saudara yang tinggal di pedalaman Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan bahkan di tengah laut yang masih tangkas mencari cari kebutuhan hidup? Mereka masih tetap bisa bertahan. Justru, kenapa orang mengeluh karena gaji rendah, tak memiliki kendaraan untuk bepergian jauh, tak bisa berlibur setiap minggu. Lalu, mengapa akal tidak mencari siasat lain untuk mengatasi problem problem itu. Kalaupun dipaksakan untuk merubah “kenyataan palsu” tetap tak bisa, karena kenyataan sebenarnya yang berbicara.,
Namun, yang jelas, sebenarnya, manusia cukup besar telah diberi ruang oleh Allah Taala untuk merancang hidupnya sendiri. Dengan demikian, harus diberi ruang pula bagi manusia di dalam membangun kesadarannya di hadapan Allah Taala: manusia memiliki titik lemah yang dimilikinya.
Jalani Hidup Semampunya
Kalau kita mengikuti hujatan hujatan yang berseliweran di media media sosial dengan kata kata yang memojokkan, maka setiap hari kita akan gampang stres, menyalahkan keadaan dan Tuhan. Semestinya, kita masih bisa bersyukur, Tuhan masih memberi banyak kesempatan untuk melakukan pekerjaan pekerjaan positif lainnya yang lebih menghasilkan.
Irit. Satu kata yang dapat diungkapkan. Irit untuk menyesuaikan keadaan. Jika pada masa lapang sering lupa dan cenderung menghambur hamburkan uang, mengapa kesempatan ini tidak dilakukan?
Logika bisa saja kecelik dalam menghitung hitung keadaan. Padahal, Tuhan sedang memberikan jalan pintasan yang dapat melapangkan. Misal, dengan harga BBM yang naik, kita bisa mengintrospeksi diri. Sebab, jika tidak dipaksa oleh keadaaan, rasa syukur dan memaksakan diri akan semakin jauh dari kesadaran. Sebelum disadarkan, lebih baik sadar sejak dini. Bukankah satu hadis menyebutkan demikian, untuk menjaga kesempatan kesempatan yang pasti akan datang. Begitu pula, kekurangan bahan pangan yang mengancam dunia, meningkatnya harga BBM, nilai tukar uang tak terkendali, semua akan menyadarkan kealpaan yang sudah dilakukan. Sebelum disadarkan oleh situasi yang lebih sulit, ada baiknya dilakukan upaya upaya preventif. Tetap tenang, terus berupaya, dan tidak lupa ibadah. Jalani hidup semampunya dan jangan memaksakan keadaan!
Kebumen, 8 September 2022.



























