Nyanyian Calung dari Balik Bukit Cibalak
Jumpa pertama pada kesederhanaan. Dari pakaian dan khas kiai ndeso. Apakah dia seorang kiai? Dia memang dari keluarga pesantren yang kini diasuh oleh adiknya. Di belakang rumahnya berdiri sebuah mushalla resik, ditambah suasana ranum suara pujian dari arah masjid pesantren di depan rumahnya yang berjarak kira kira 100 meter.
Setelah kencan terlebih dahulu via massenger akhirnya sore itu menjelang Maghrib, aku berjumpa dengannya.
”Apakah dia orang santri?” tanyaku pada Awang, teman yang mengantarku. Aku masih sangsi karena melihat Purwokerto adalah kota basis warga Muhammadiyah.
”Ya,” kata Awang, ”istrinya pengurus Muslimat.”
Jawaban Awang terjawab juga ketika Ahmad Tohari bercerita tentang Gus Dur hingga keraguanku pun sirna. Ia menyambutku dan Awang dengan senyuman khas penulis. Senyuman akrab seolah sudah lama berkenalan. ”Dari mana?” tanyanya. ”Mahasiswa yang melakukan penelitian atau wartawan?”
”Saya baru belajar menulis, ingin berbincang sebentar,” jawabku, sopan.
”Ah, ya.”
”Saya juga mau minta endorsement untuk novel saya,” lanjutku, seraya menyodorkan naskah yang sudah rapi terjilid.
Lelaki paruh baya itu menyambut dengan wajah serius. Kemudian, ”Saya cukup membaca lembar lembar pertama saja dari sebuah karya tulisan. Saya sudah bisa melihat baik dan buruknya tulisan itu,” ujarnya, kalem.
”Tapi, sebelumnya saya mau mendengar cerita proses kreatif Bapak ketika menulis.”
Ahmad Tohari memandang sebentar. “Saya baru saja datang dari Bogor, jadi tak bisa lama lama. Lagi pula waktu sudah sore dan hampir Maghrib.”
”Tidak mengapa, sebentar saja.”
Ahmad Tohari pun mulai bercerita panjang lebar, sementara aku menyimak dengan tekun, sambil sesekali mengajukan pertanyaan padanya. Tentang kuliahnya yang tidak rampung di jurusan kedokteran. Gaya menulis dengan bersandar pada biologi dan antropologi, serta penulisan istilah yang salah, namun tidak diralatnya.
”Intinya, menulis jangan menggurui,” katanya, mengakhiri obrolan kami.
Dan, desir angin berhembus pelan. Suara azan sayup terdengar. Kami beranjak ke mushalla setelah selesai ngobrol bersama sang maestro sastra itu untuk menunaikan salat Maghrib.
Purwokerto, 2010.



























