• Terbaru
  • Populer

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Sejarah dan Sastra

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

Kado Peradaban

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
20 Agustus 2022
dalam Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 3 menit
A A
185
VIEWS

Pendahuluan

Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian suku-bangsa Indonesia. Pesantren bukan hadiah. Pesantren adalah aset masyarakat. Hasil dari jerih payah dan refleksi sejarah-budaya yang panjang. Dari masa ke masa, pesantren terus mengalami metamorpose guna menyesuaikan diri dalam merespon perubahan zaman.

Pesantren selalu menarik perhatian. Sudah banyak penelitian dan buku yang ditulis mengenai model pendidikan tertua di Indonesia ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sebagaimana Martin van Bruinessen secara khusus menulis buku dari hasil penelitiannya pada 1984, Kitab Kuning, Pesantrena dan Tarekat.

ArtikelLainnya

Ketika Harus Ikhlas Sejak Awal

8 September 2022
137

Kenangan Singkat Bersama Ahmad Tohari

7 September 2022
142

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
147

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
138
Tampilkan Yang Lain

Sejarah pesantren tidak bisa terlepas dari akar tradisi masyarakat bangsa Indonesia par excellence, karena tumbuh dari kebutuhan masyarakat akan tempat dan sarana ibadah yang memadai. Dari tempat dan sarana tersebut, kegiatan ibadah, belajar dan mengajar, serta ketertiban hukum dan adat berlangsung. Ada imam salat yang tetap, pembagian zakat dikelola oleh marbot dan mesjid, pusat pendidikan dan pengajaran ilmu (baik khusus maupun umum), serta kepatuhan terhadap pemimpin spiritual yang diyakini memiliki implikasi ideologis bagi masyarakat.

Secara terminologi, kosakata pesantren tidak dijumpai di dalam kamus bahasa Arab. Pada masa dahulu, penyebutan pesantren tidak terlepas dari nama tempat pesantren itu berada: seperti Pesantren Tebuireng yang terletak di Dusun Tebuireng, Pesantren Krapyak di kampung Krapyak, serta Pesantren Kajen di Desa Kajen.

Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren memang sudah ada sejak lama. Sebelum formalisme pendidikan-sekolah dikenalkan oleh Belanda, ketika intelektualisme belum mengenal sekat sekat strata dan kapitalisasi. Secara sukarela, masyarakat memberikan sumbangan sumbangan demi kelangsungan proses belajar dan mengajar di pesantren tanpa pamrih, sehingga tercermin keikhlasan antara guru dan murid. Guru memberikan ilmu sementara murid menjaga kelangsungan hidup pesantren. Sementara sang guru sendiri berdagang selain Bertani atau berkebun. Namun, proses modernisasi telah mengenalkan profesionalisme sebagai balasan dan imbalan atau “nilai”, jasa, sehingga keikhlasan bukan menjadi ukuran. Di dunia pesantren, keikhlasan menjadi salah satu standar moral guru dan murid. Hal ini sesuai dengan makna murid itu sendiri yang berarti ”orang yang berkehendak”. Seorang murid harus memiliki kehendak sendiri untuk belajar dan berguru kepada orang yang diinginkannya. Orang yang dikehendaki tersebut memiliki ragam penyebutan pula: kiai, tuan guru, inyiak, ungku, atau tengku. Dikehendaki karena memiliki pemahaman dan pengamalan ilmu ilmu secara lahir dan batin.

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah berakar di masyarakat Indonesia, pesantren memiliki nama tempat yang berbeda di tempat yang berbeda. Di Aceh, pesantren dikenal dengan sebutan dayeuh; di Sumatera Barat dikenal dengan nama surau; sementara di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan sebutan langgar atau tajug di Jawa Barat. Dayeuh, surau, langgar, atau tajug adalah nama-nama tempat yang difungsikan untuk beribadah (mushalla atau masjid). Dalam cerita-cerita tradisi lisan masyarakat Minangkabau, surau memiliki ciri khas tersendiri sebagai tempat pendidikan mental anak-anak untuk hidup mandiri, lepas dari kedua orangtua. Biasanya, diajarkan pula ilmu bela diri di samping mencari nafkah sendiri.

Di tempat tempat tersebut, anak anak muda, khususnya paralelaki, belajar mulai menginap, tidak tidur di rumah, sebelum mengenal asrama atau jumlah orang yang belajar (santri atau siak) masih sedikit. Karena, tidak sesakral seperti di mesjid yang harus suci dan bersih dari najis. Asrama dikenal setelah jumlah orang yang belajar kian bertambah banyak, sehingga memerlukan tempat penampungan yang lebih besar. Di samping, untuk keperluan-keperluan lain seperti memasak atau mandi. Penamaan asrama atau tempat menginap orang-orang belajar itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan pesantren. Di Jawa Tengah sebutan asrama itu dikenal dengan nama gothaan, sementara di Jawa Barat dikenal dengan sebutan kobongan.

Dengan demikian, mencari akar sejarah pesantren dapat dilihat dari kebiasan yang berlangsung di kehidupan masyarakat. Dari kehidupan di dayeuh, surau, langgar, atau tajug, Ketika proses belajar mengajar dan kemandirian ditempa. Demikian itu dinamakan pola pendidikan tradisional.

Pesantren mengalami proses formalisasi pendidikan sejak Belanda mengenalkan sistem sekolah yang disekat dengan ruang ruang klasikal. Pada sistem sekoah dan klasikal ini, pola pengajaran sudah menggunakan kurikulum.

Pola klasikal pertama dengan menggunakan kurikulum menurut beberapa catatan dimulai di Pesantren Tebuireng, ketika KHA Wahid Hasyim mengenalkan pola Nidhamiyah (Sistemik). Sedangkan di Sumatera Barat dimulai di Pesantren Tawalib, Padang Panjang. Namun demikian, jejak sistemasi pola pendidikan yang termanifestasi ke dalam bentuk sekolah, kelas, dan kurikulum dapat dilacak dari modernisasi pendidikan tradisional. Ketika sistem pengajaran yang semula sangat sederhana dilakukan di tempat tempat ibadah atau di rumah pribadi berpindah ke tempat khusus dengan diberi sekat sekat ruangan dan pengelompokan grup belajar.

Tag/kata kunci: pesantrenPesantren KajenPesantren KrapyakPesantren TebuirengSiakSurau
Artikel sebelumnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

Artikel berikutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
137

Pembatasan Pembatasan Belanda Dalam tulisan Zamakhsyari Dhofier (2011) disebutkan: Belanda telah memberi pembatasan pembatasan terhadap Islam sejak kedatangannya hingga abad ke-19....

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
143

Akar Sejarah Intelektual Pesantren Disiplin keilmuan pesantren memiliki perbedaan dengan disiplin keilmuan pada umumnya. Disiplin keilmuan pesantren memiliki ciri-ciri: 1) transfomastif;...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
148

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
142

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya

Keluarga Pak Salim

19 Agustus 2022
164

Kesederhanaan Pak Salim Akhir-akhir ini, sedang viral nama keluarga Pak Salim yang kebetulan berdomisili di kota kecil, tempat kami tinggal. Tepatnya,...

Selanjutnya

Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022
144

Mungkin, kalimat yang lebih tepat adalah “Joko Tingkir Unjukan Dawet”. Jaka Tingkir minum Dawet. Apa yang salah? Tidak ada yang salah....

Selanjutnya

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

18 Agustus 2022
176

Ada yang bertanya, “Sejak kapankah kesenian ludruk mulai dikenal di Jawa Timur?” Tentu, sebagai salah satu corak kesenian, ludruk mulai dikenal...

Selanjutnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022
142

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

Biografi KHA Musta’in Syafiie (1)

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply