Efek Sebagian Besar Penduduk Pindah ke Kota
Semula aku mulai tak percaya, kalau rakyat masih memiliki kedaulatan. Teknik teknik demonstrasi ala mahasiswa dan buruh sudah tidak efektif lagi akan membawa perubahan seperti pada masa masa yang lalu ketika media massa masih terbatas dan tak jarang dibredel. Oh, ya, bredel itu istilah dulu, kalau sekarang sering dipakai kata “take down”. Ketidakpercayaan itu muncul karena masyarakat sekarang cenderung “mager” alias malas gerak, juga melalui media sosial sepertinya lebih bebas untuk menyuarakan suara kehendak. Di samping, risiko di lapangan akan jauh lebih berbahaya akibat hujan dan panas. Belum lagi kalau lapar melanda.
Pesimisme teman berkata, “Nanti, kalau keadaan politik dan ekonomi mulai membaik, barangkali penulis dan literasi juga akan membaik. Sekarang, memang tidak sedang baik baik saja.” Dan, seorang bijak juga berkata, “Tanda tanda baiknya zaman, salah satunya adalah baiknya literasi.”
Sama sama pesimis, aku coba menolak dua argumen tersebut, kalau literasi akan baik manakala situasi memang karut marut semacam ini. Lebih pesimis, bukan?
Ya, baiknya ekonomi itu relatif. Baik dari segi apanya? Tuturku. Sebab, almarhum Bapak dulu pernah bilang, “Sesulit sulitnya zaman sekarang, rakyat masih bisa makan. Kalau dulu, krisis berarti memang tidak bisa makan. Beras tidak ada. Masyarakat makan gadung!”
“Kalau dulu, Bapakmu menanam padi di sawah pagi, sorenya sudah pasti hilang,” kata paman, adik sepupu Bapak.
Aku terdiam, menyimak. Aku tak mampu menangkap, zaman Bapak dulu yang dicari cari orang apa? Barangkali rebutan benih padi itu karena mahal nilainya. Kalau sekarang, setiap orang yang kujumpai mereka bertanya, “Ada uang, nggak?” Begitu kuat tekanan moneter di beban pundaknya. Beda orang orang dulu dan sekarang. Kalau dulu makan nasi, sekarang makan uang.
“Dari kesulitan pula, memunculkan orang orang hebat yang mampu bertahan hidup,” lanjut Bapak. Ia kemudian mengingatkan dan menunjukkan beberapa tokoh.
Argumen Bapak itu tidak salah. Pemimpin politik dunia rata rata juga demikian seperti Adolf Hitler yang jarang tersenyum dan memiliki masa lalu yang suram. Tapi, Bapak memang tidak ingin ramah pada kenyataan. Meskipun, tidak sedikit orang yang datang berlindung kepadanya.
Kembali kepada susastra, karya karya bagus memang lahir dari perut yang lapar. Di saat, semua orang bisa merasakan hal yang sama. Seperti kata paradai, “Berpuasa di bulan Ramadhan agar kita sama merasakan lapar bagi mereka yang kelaparan.” Menulis itu harus lapar!
Saat ini, bagiku, tidak ada susastra yang benar benar dapat merasuk ke dalam relung hati dan pikiran pembaca. Di samping, arus media yang begitu deras. Setiap hitungan detik menghadirkan berita berita menarik, tumpang tindih. Atau, karena ditulis dalam kondisi perut yang kenyang sehingga tidak lagi merasuk. Entahlah!
Kini, masyarakat mulai memilih hidup di kota yang menggantungkan hidup dengan serba uang. Di desa pun telah menjadi kota. Semua kebutuhan diukur serba uang. Saudara saudaraku mulai panik kalau mereka lupa masih punya sawah, kolam, sepertinya tidak bicara uang, kiamat!



























