• Terbaru
  • Populer

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

18 Agustus 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Rabu, 17 Juni 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Sejarah dan Sastra

Ludruk: Jenis Seni Drama Jawa Timuran

Lahir dari Budaya hingga Polarisasi

Jatim Net26 Ditulis oleh Jatim Net26
18 Agustus 2022
dalam Sejarah dan Sastra
| Waktu baca 4 menit
A A
176
VIEWS

Ada yang bertanya, “Sejak kapankah kesenian ludruk mulai dikenal di Jawa Timur?” Tentu, sebagai salah satu corak kesenian, ludruk mulai dikenal sejak orang Jawa Timur mengenal kesenian darma.

Mengidentifikasi latar belakang kemunculan kesenian drama di Jawa Timur memang tidak mudah, karena harus menelusuri jejak pertama kesejarahan manusianya. Pada masa raja raja, mulai dari Kanjuruhan, Singasari, Kediri, hingga Majapahit, manusia Jawa Timur sudah mengenal kesenian drama sebagai bagian dari hidup mereka untuk menghibur diri. Hal ini terlihat dari relief relief yang terpahat di dinding dinding candi, kesenian topeng, dan kesenian yang dipanggungkan.

ArtikelLainnya

Ketika Harus Ikhlas Sejak Awal

8 September 2022
139

Kenangan Singkat Bersama Ahmad Tohari

7 September 2022
142

Prostitusi: Kemiskinan ataukah Gaya Hidup?

26 Agustus 2022
147

Ada Hantu Bondong di Tempatku

25 Agustus 2022
138
Tampilkan Yang Lain

Namun demikian, ludruk terlahir dari budaya urban. Artinya, setelah terjadinya percampuran antarsuku-bangsa karena faktor faktor politik, perdagangan, dan batas wilayah. Bahkan, di satu sisi, juga melibatkan budaya suku-bangsa asing seperti Belanda, China, dan Arab. Maka, tidak heran, jika kemudian ludruk dapat menampilkan gaya bahasa yang terbuka. Tidak hanya sebatas pada bahasa Arek.

Arek

Kata “Arek” digunakan dalam bahasa sehari hari untuk sebutan bagi kalangan muda seperti “Arek iki”, anak ini. Namun, sering disebut salah sebagai kalangan yang suka berkelahi yang diidentikkan dengan kata “Carok” atau “Arok”. Meskipun, dengan motif motif yang berbeda seperti dalam mempertahankan hargadiri. Seperti ungkapan orang orang suku-bangsa Madura dalam mempertahankan hargadiri; “Lebih baik putih tulang daripada putih mata”. Artinya, lebih baik mati daripada harus menanggung malu.

Kata “Arek” pada kasus berbeda memiliki arti “saudara”. Seperti ungkapan, “Ana ta sira ari ika Kadiri?” Apakah Anda saudara dari Kediri?”

Belum diketahui, apakah kata “Arek” ini merepresentasikan sistem yang berlaku di kerajaan pada masa lalu atau telah menjadi bahasa popular? Begitu pula, apakah sistem kasta juga berlaku pada kebudayaan kerajaan kerajaan di Jawa Timur? Jika sistem kasta itu berlaku, maka ungkapan kata “Arek” dapat digambarkan sebagai representasi budaya popular yang berlaku di luar istana. Corak budaya Hindu(stan) menurut salah satu pendapat bukan seperti corak agama agama dari Timur Tengah yang mengedepankan formalitas prasyarat adanya Tuhan (melalui sesembahan/ibadah), kitab suci, dan nabi atau utusan. Sebab, bagi penganut Buddha sendiri, Buddha adalah bukan sebuah agama, melainkan ajaran tentang moral atau “dharma”. Orang orang Bali juga menyebut ajaran mereka sebagai “Dharma” atau dikenal setelah Orde Baru sebagai “Hindu Dharma”. Pada masa Orde Baru tersebut, semua agama kemudian diformalkan dengan syarat dan prasyarat yang diajukan oleh Kemneterian Agama.

Arek dalam konotasi masyarakat terbuka selayak masyarakat populer dengan kehidupan yang bebas tanpa ada aturan yang ketat dari pihak pihak kerajaan atau pemerintah setempat. Merela memiliki aturan tersendiri sebagaimana kemudian muncul satu aliran “Bhirawa” yang membolehkan ritus rirtus di luar ritus kepercayaan dharma. Kerumitan semacam ini yang terlepas dari perhatian sejarawan, seolah kepercayaan Hindu(stan) berbeda dengan ajaran Buddha. Padahal, Buddha di India merupakan ajaran yang bersifat revolusioner pada ritual ritual yang “sulit” selayaknya Syiwa, Wisnu, atau Brahma.

Dengan demikian, budaya “Arek” bisa dikatakan populer manakala dilepas dari struktur yang berlaku dalam system kerajaan. Namun, perlu penelitian lebih detil, apakah memang demikian atau justeru system kerajaan di Jawa Timu r malah tidak mengenal kasta?

Fase Fase Ludrukan

Dilihat dari perkembangannya, seni drama Ludrukan memiliki dasar dasar yang terbuka dan cair. Seni drama ini-karena mengandung alur-bisa dilakukan di setiap tempat sehingga untuk kehidupan sehari hari hamper tidak bisa dibedakan antara hidup yang sebenarnya dan hasil rekayasa dari sebuah narasi. Spontan! Ludruk dapat dilakukan setiap saat dan menjadi gaya hidup seadanya. Meskipun, setidaknya, untuk perlengkapan-agar terkesan serius-diperlukan aksesoris aksesoris selayaknya pentas drama. Karena sifatnya yang terbuka dan cair, ludruk terus mengalami evolusi dengan budaya budaya baru yang datang. Oleh karena itu, ludruk mengalami proses dalam beberapa fase diantaranya:

Fase Kelahiran, Cak Santik. Meskipun ludruk tidak dapat diidentivikasi waktu kelahirannya karena menjadi budaya sehari hari, namun parapenulis sejarah ludruk sering mengaitkan dengan seorang tokoh yang bernama Pak Santik. Diawali kisah oleh Pak Santik yang ingin menghibur anaknya seorang diri sehingga ia mengenakan pakaian laksana badut wanita. Tindakan Pak Santik ini menjadi inspirasi untuk mencari uang dengan berkliling dari kampung ke kampung guna menghibur warga.

Fase Stambul, kalangan kiai. Dengan banyaknya kaum santri yang belajar di Mekah, ada di antara mereka yang mengenal gaya hidup orang berpakaian Arab atau Turki. Unsur unsur pakaian ini kemudian menginspirasi lahirnya cerita parasahabat Nabi Muhammad saw. Dan, ludruk tidak lagi disajikan dengan apa adanya (blakasutha). Narasi narasi mulai terbentuk dan pada saat yang sama muncul lakon Besut dan Rukmini. Ludruk mulai ditampilkan di atas atas panggung resmi, meskipun tidak sedikit parakiai yang menolaknya.

Fase Tonil, Belanda. Terbentuknya Negara Hindia Belanda beserta pendirian pabrik pabrik dan perkebunan perkebunan di Jawa Timur telah memberi inspirasi untuk menjadikan ludruk sebagai tontonan bagi kalangan elit Belanda. Dan, tidak sedikit pekerja pekerja pabrik kemudian “nanggap” ludruk di sekitar pabrik gula. Pada fase ini, parakiai yang semula tidak setuju dengan kesenian drama ludruk mengambil sikap kian menjauh dan berjarak. Ludruk kemudian mulai terpolarisasi secara budaya, terutama di kalangan elit Belanda yang tertutup.

Fase Sandiwara, Jepang dan awal kemerdekaan. Kalangan seniman memanfaatkan seni drama ludruk sebagai sarana bersandiwara. Istilah “sandiwara” muncul sebagai alat untuk menyampaikan pesan pesan dengan kata kata sindiran. Kata “sandi” dan “wara wara” (penyampaian pesan) menjadi alat untuk mengritik pihak Jepang sebagaimana kemudian muncul sanepa Cak Durasim yang terkenal: “Pagupon omahe doro, melu Nipon tambah soro”. Sanepan atau sindiran halus tersebut memberi pesan pesan kritik social terhadap pemerintahan Jepang yang berkuasa pada saat itu.

Fase Pasca-Revolusi. Meskipun, pada masa Revolusi, ludruk dapat digunakan sebagai sarana menyampaikan pesan pesan rahasia, namun pada masa awal kemerdekaan yang penuh gejolak, ludruk menjadi identitas kelompok. Terutama, Ketika partai partai politik memiliki “underbow underbow” yang mendaku ludruk sebagai identitas politik. Ludruk tidak lagi bebas kepentingan, melainkan sebagai alat propaganda propaganda politik. Pelaku pelaku ludruk tidak sedikit yang diidentikkan dengan pengikut Partai Komunis Indonesia. Mereka dicap kaum abangan yang jauh dari kehidupan kaum santri yang taat menjalankan agama. Hal ini pula menjadi bahan legitimasi Cliffort Geerz untuk memecah hubungan secara trikotomi antara kalangan ningrat (priyayi), santri, dan abangan.

Tag/kata kunci: Cak DurasimHindia BelandaJepangludrukNiponPartai politik
Artikel sebelumnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

Artikel berikutnya

Buruh Jombang Usul Libur Nasional Di Hari Berdirinya NKRI 18 Agustus

Jatim Net26

Jatim Net26

Artikel Lainnya

Pesantren dan Selebritas Intelektual (Bagian Empat)

25 Agustus 2022
137

Pembatasan Pembatasan Belanda Dalam tulisan Zamakhsyari Dhofier (2011) disebutkan: Belanda telah memberi pembatasan pembatasan terhadap Islam sejak kedatangannya hingga abad ke-19....

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Tiga)

24 Agustus 2022
143

Akar Sejarah Intelektual Pesantren Disiplin keilmuan pesantren memiliki perbedaan dengan disiplin keilmuan pada umumnya. Disiplin keilmuan pesantren memiliki ciri-ciri: 1) transfomastif;...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Dua)

20 Agustus 2022
148

Masyarakat Turats Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, pesantren telah melahirkan banyak pelajar, baik melalui metode  warisan (turats) atau metode yang telah...

Selanjutnya

Pesantren dan Selebrasi Intelektual (Bagian Satu)

20 Agustus 2022
185

Pendahuluan Berbicara tentang pesantren sama seperti tentang diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya tidak asing. Karena, pesantren hidup dan tumbuh dari kedirian...

Selanjutnya

Beberapa Penerbit Tak Bayar Royalti Penulis

20 Agustus 2022
142

Ada sebagian kelompok yang memang memiliki niatan baik untuk mengangkat harkat dan derajat penulis di Indonesia. Sehingga penulis tetap bisa eksis...

Selanjutnya

Keluarga Pak Salim

19 Agustus 2022
164

Kesederhanaan Pak Salim Akhir-akhir ini, sedang viral nama keluarga Pak Salim yang kebetulan berdomisili di kota kecil, tempat kami tinggal. Tepatnya,...

Selanjutnya

Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022
144

Mungkin, kalimat yang lebih tepat adalah “Joko Tingkir Unjukan Dawet”. Jaka Tingkir minum Dawet. Apa yang salah? Tidak ada yang salah....

Selanjutnya

Diri yang Mendamaikan Dunia

17 Agustus 2022
142

Tema yang diangkat adalah tentang diri. Diri dan jati adalah dua dimensi yang bisa sama, juga bisa berbeda entitasnya. Perlu kecermatan...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Buruh Jombang Usul Libur Nasional Di Hari Berdirinya NKRI 18 Agustus

Joko Tingkir Ngombe Dawet

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply