Salah satu kesalahan dalam berwirausaha yang dilakukan oleh parapemula adalah mental. Seorang motivator seharusnya mementingkan pembenahan mental ini untuk mendidik seorang wirausahawan Tangguh. Sebab, tanpa mental yang tangguh, akan sia sia saja jika ingin berwirausaha.
Hal yang tersulit dilakukan oleh seorang pemula dalam berwira usaha adalah menjaga keikhlasan sebagaimana sering diceritan oleh Om Bob Sadino. Merangkul kekecewaan. Sebab, masalah kecewa adalah yang paling sering dijumpai.
Ujung tombak suatu usaha adalah marketing. Jika marketing-nya bagus, maka bisa dikatakan usaha pun akan turut bagus. Tapi, di antara seratus orang yang mendaftar suatu pekerjaan belum tentu akan mendapatkan seorang ahli marketing yang handal.
Menjalani keikhlasan dan mencintai pekerjaan adalah perkara yang tidak mudah dalam kehidupan nyata. Anak istri tidak akan tinggal diam meminta sesuatu, mulai dari bahan belanja sehari hari hingga piknik di akhir pekan. Semua membutuhkan materi, terutama uang. Sejak dahulu kala, uang dan alat tukar lainnya menjadi materi yang selalu diburu buru sehingga memerlukan penanganan ekstra, baik dari tindak kejahatan maupun tindakan tindakan pemborosan.
Namun, sejarah dan wiracarita tidak dengan tegas membahas masalah uang ini. Uang digambarkan oleh kemewahan kemewahan batu batu permata dan emas. Uang adalah bagian dari problem modernitas. Batu batu permata dan emas menjadi barang barang berharga yang disimpan, tidak untuk dibicarakan. Kalaupun harus, mesti menjadi bahan bahan pameran. Tapi, uang menjadi pembicaraan yang senantiasa menjadi topik utama di setiap meja meja kencan. Dengan demikian, jika sudah memiliki kemampuan berbicara uang ini, seseorang akan merasa sudah mampu berbisnis. Dan, itulah yang terjadi pada realitas saat ini. Seorang dipandang digdaya di mata dunia apabila memiliki nilai jumlah uang yang banyak. Meskipun, dengan risiko nilai tukar uang bisa jeblok setiap saat. Dengan kata lain, sejarah dan wiracarita hanya menampilkan tokoh tokoh dengan posisi masing masing. Posisi seorang raja akan berbeda dengan wewenang yang dimiliki oleh seorang Perdana Menteri. Dilihat dari posisinya. Begitu pula, posisi seorang brahmana akan berbeda dengan posisi seorang raja. Selanjutnya, posisi posisi yang dimiliki oleh tentara dan rakyat. Mereka memiliki kelas masing masing sesuai dengan tugas masing masing.
Dengan demikian, arah kebijakan suatu negara akan sangat menentukan posisi posisi generasi selanjutnya. Jika dulu Pemerintah Hindia Belanda (PHB) memiliki tiga program Politik Etis berupa pendidikan, pengairan, dan transmigrasi, maka tiga poin tersebut yang kini masih mengisi ke dalam posisi posisi ruang sejarah Indonesia. Not else! Maka, selayaknya berpikir jauh jauh untuk dunia wirausaha ketika ketiga mental “buruh” tersebut belum hilang. Kini, masih dapat dijumpai mental mental buruh birokrasi dari hasil hasil pendidikan, buruh perkebunan dari kerja kerja pengairan, serta buruh pekerja tambang untuk membuka lahan baru.















