• Terbaru
  • Populer

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 02

11 Agustus 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Berita Umum

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 02

Bagian Dua

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
11 Agustus 2022
dalam Berita Umum
| Waktu baca 4 menit
A A
151
VIEWS

Garda Depan

Kaum intelektual Afrika Utara (Mesir, Aljazair, Tunisia, Libya, dan Maroko) menamai diri mereka sebagai kelompok Garda Depan. Karena, bersinggungan langsung dengan kaum intelektual Eropa. Dari sejarahnya, kekuatan militer hampir sama antara Afrika Utara dan Eropa. Sehingga bisa dikatakan tidak pernah terjajah, meskipun pernah menjadi negara negara protektorat di bawah kekuasaan Kekaisaran Usmaniyah. Munculnya sistem negara bangsa (nation state) akibat kekalahan Turki pada Perang Dunia Pertama menyebabkan negara negara keemiran berdiri sendiri dengan wilayah masing masing sebagaimana saat ini. Hal yang berlaku sama bagi negara negara Timur Tengah pada umumnya.

Hubungan Timur dan Barat sudah terjalin melalui Pantai Barat Afrika, Tanjung Harapan, Teluk Persia, India, hingga ke Nusantara. Catatan catatan dari masa Ptolemy (Firaun) telah memberikan informasi ini hingga masa Ibnu Batuta. Catatan catatan perjalanan yang bisa dibedakan dengan catatan perjalanan suku-bangsa Eropa seperti Christopher Columbus.

ArtikelLainnya

Revitalisasi Pesantren Pesantren Tradisional

12 September 2022
150

Luncurkan Buku, Bunga Setaman Siap Bersinergi

15 Agustus 2022
139

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 03

11 Agustus 2022
145

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

10 Agustus 2022
155
Tampilkan Yang Lain

Memang, beberapa motif yang menjadikan suku-bangsa di Afrika Utara untuk bisa sampai ke Nusantara. Bisa karena perdagangan, perkawinan, atau terusir sebab peperangan.

Kemunculan muslim di Nusantara dengan gelar “Maulana” bisa menjadi petunjuk hubungan tersebut berjalan baik seperti Maulana Maghribi, Maulana Malik Ibrahim, dan Maulana Ishak. Mereka berasal dari Afrika Utara, terutama Mesir dan Maroko. Di samping, banyak amalan amalan umat muslim Nusantara yang memakai amalan amalan dari negara negara Afrika Utara seperti shalawat Nariyah, Burdah Al Bushiri, maupun thariqah Al Syadziliyah. Sejauh ini, ciri dari amalan amalan yang beraneka ragam dan bentuk kekhususannya belum pernah diteliti secara detil. Dari negeri mana sajakah amalan amalan umat Islam di Nusantara dan bagaimana corak coraknya? Hanya bersifat parsial dan ketokohan sumbernya saja, itupun tidak terlalu detil. Ada sanadnya, tapi “station station” amalan tersebut masih jarang diteliti.

Ulama Ulama Bani Alawi Al Maghribi

Secara sosio kultur, penelitian detil masih kurang, kalaupun ada berupa biografi biografi tokoh saja. Perbedaan perbedaan antara keturunan Bani Hasan dan Bani Husein (bin Ali bin Abi Thalib) juga masih sedikit dan cenderung campur aduk. Belum lagi gelar gelar lokal yang memiliki ciri khas suatu wilayah seperti Khan, Sultan, Amir, Shah, dan lain lain. Sehingga sangat sulit dideteksi, suku-bangsa apa sajakah yang membawa Islam ke Nusantara? Dalam pendapat Martin Van Bruinessen, Syekh Jumadil Kubro merujuk kepada pendiri thariqah Al Kubrawiyah, Syekh Najmuddin Al Kubra. Bisa jadi, berbeda dengan pendapat lain.

Dalam hal ini, Habib Luthfi bin Yahya memberikan keterangan jika salah satu makam wali di Tapanuli, Ahmad Shah Jalal (cucu raja Nashirabad, India) menikah dengan puteri Raja Champa yang di kemudian hari melahirkan Syekh Jamaluddin Husein. Syekh Jamaluddin Husein kemudian melahirkan 11 orang anak keturunan 9 wali di Nusantara. Syekh Jamaluddin Husein inilah yang melakukan perjalanan bersama rombongan dari Timur Tengah dan Maroko ke Nusantara. Rombongan yang dikenal kemudian dengan sebutan Al Maghrobi. Setelah singgah ke Pasai, Aceh, rombongan tersebut lalu menuju Pulau Jawa ((Semarang). Dari Semarang, kemudian ke Trowulan, Mojokerto. Karena, perilaku rombongan Syekh Jamaluddin Husein tersebut dipandang baik, maka merekapun mendapat tempat untuk mendirikan pesantren dari petinggi Majapahit kala itu. Dari situ, Syekh Jamaluddin Husein menerima murid dan santri dari berbagai kalangan dan dari berbagai negeri. Syekh Jamaluddin Husein ini dikenal pula dengan sebutan Syekh Jumadil Kubro.

Setelah masyarakat Islam berkembang, rombongan Syekh Jamaluddin Husein ini berpencar ke mana mana. Yang terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat. Dari makam makam rombongan inilah kemudian dinamakan Al Maghribi sehingga berbilang jumlahnya di berbagai tempat.

Tidak berhenti di situ, kemudian datang lagi rombongan gelombang kedua yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim bersama rekannya, Sayid Ibrahim Asmoroqondi (dari Samarkand). Sayid Ibrahim Asmoroqondi ini mendapat jabatan dan wilayah istimewa sehingga bergelar Pandita Ratu.

Tak lama kemudian, rombongan Maulana Malik Abdul Ghofur, kakak Maulana Malik Ibrahim, disebut pula sebagai Al Maghrabiyun. Dan, ternyata lebih banyak daripada jumlah sebelumnya.

Menurut Habib Luthfi bin Yahya, Maulana Malik Ibrahim adalah cucu dari Syekh Jumadil Kubro.

Setiap rombongan berpencar ke berbagai daerah dan ada yang sampai Pekalongan.

Di Pekalongan, jumlah mereka ada sekitar 25 orang maulana Al Maghrabiyun. Makam makam mereka dengan sebutan yang sama, Maulana Maghribi. Dan, Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran memanggil Maulana Maghribi dengan sebutan kakek yang berarti lebih tua atau dipandang tetua oleh Prabu Siliwangi.

Di antara rombongan Maulana Maghribi tersebut, ada yang wafat di pesisir Semarang dan dikenal pula dengan sebutan Syekh Jumadil Kubro. Lokasinya dekat Kaligawe.

Ada yang wafat di Pekalongan, seperti rombongan Maulana Syarifuddin Abdullah Hasan Alwi Al Quthbi. Mereka tinggal di daerah Blado, Wonobodro. Dua orang lagi bernama Maulana Ahmad Al Maghrabi dan Maulana Ibrahim Al Maghrabi yang tinggal di Bismo. Ketiganya dimakamkan di Bismo dan Wonobodro.

Mereka juga membangun masjid Bismo dan masjid Wonobodro. Di Setono (Pekalongan), terdapat makam Maulana Abdul Rahman dan Maulana Abdul Aziz Al Maghrabi. Juga, ada Syekh Abdullah Al Maghrabi Ragoselo, Sayid Muhammad Abdussalam Ki Gede Penatas Angin.

Dengan demikian, rombongan Maulana Maulana Al Maghrabiyun tersebut ada empat generasi. Mereka dari kalangan Bani Alawiyun yang berkuasa di Afrika Utara. Yang pertama, generasi Syekh Jamaluddin Husein di Trowulan; kedua, generasi Syekh Ibrahim Asmoroqondi di Tuban; ketiga, generasi Maulana Malik Ibrahim di Gresik; dan, keempat, generasi Sunan Ampel. Adapun yang dimakamkan di Paninggaran (Sawangan, Pekalongan) atau disebut Wali Tandur adalah termasuk generasi kedua, meskipun bukan termasuk dari kalangan Al Maghrabiyun. Wali Tandur ini gigih melakukan syiar Islam di Paninggaran. Kalau dalam bahasa Sunda, paninggaran itu berarti “cemburu”.

Tag/kata kunci: AsmoroqondiBani AlawiGresikMaulana MaghribiPekalonganSemarangsunan ampelTuban
Artikel sebelumnya

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 01

Artikel berikutnya

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 03

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Kontras! Menyisir Kemiskinan di Sisi Pantura

8 Agustus 2022
139

Jika melihat layanan pinjaman online (pinjol) yang memiliki banyak tawaran seakan kontras dengan keadaan sebenarnya di sepanjang pantai utara Pulau Jawa....

Selanjutnya

Lulus Kuliah di Perguruan Tinggi “Nonmuslim”?

7 Agustus 2022
135

Ilmu bersifat universal untuk dipelajari, termasuk teologi dan kepercayaan. Jadi, tidak ada yang aneh seorang muslim yang lulus dari perguruan tinggi...

Selanjutnya

Reaktualisasi Tradisi Surau di Ranah Minang

6 Agustus 2022
136

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata surau berarti tempat (rumah) umat islam melakukan ibadahnya (mengerjakan sholat, mengaji, dan sebagainya). Mengacu...

Selanjutnya

KH Amin Abdul Hamid: Ibu, Sinyal Terdekat kepada Allah

3 Agustus 2022
157

Ngawi-jatim.net26.id - Membahasakan "kirim bacaan Al Fatihah" sering menjadi kontroversial bagi yang salah paham. Mereka membangun asumsi masing masing karena tidak...

Selanjutnya

Kader Imam Masjid di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng

2 Agustus 2022
259

Jombang-Jatim.Net26.id - Salah satu bentuk kaderisasi di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng (MQ) Tebuireng adalah memberikan kesempatan kepada santri yang sudah...

Selanjutnya

KH Mabrur Syaibani: Hapal Al Quran sebagai Wiridan

18 Juli 2022
137

Menuntut ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah, mengulang-ulang ilmu adalah zikir, mencari ilmu adalah jihad. Imam Al Ghazali (wafat 1111),...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Suku-bangsa Barbar Menurut Mbah Maemun Zubeir 03

Pesantren dan Realitas Kekinian

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply