Pesantren merupakan sebuah konsep yang selalu menginspirasi. Ada banyak materi untuk dibahas, meskipun rutinitas yang berjalan seperti monoton dan itu itu saja.
Konsep Budaya
Kenapa pesantren mampu bertahan lama, bahkan bisa dikatakan sudah ada sejak sejarah awal manusia? Ketika pertama manusia menerima pengetahuan dari yang Maha Tahu.
Pesantren (“pesan” dan “tren”). Singkat kata, pesantren berarti “pesan yang selalu aktual”. Hangat untuk dibahas, didiskusikan, direka ulang, dan seterusnya. Maka, diperlukan pula suatu seminar atau halaqah, hiwar, pelatihan, workshop, dan seterusnya. Pesantren pada tahap ini merupakan upaya menangkap kesadaran. Karena, pembahasan, diskusi, serta pengajian tidak datang dari satu arah, melainkan multidimensi. Tema tema demikian sangat kaya di pesantren, terutama pada tradisi Bahtsul Masail (membahas beberapa persoalan).
Mencari dimensi budaya pada pesantren sebenarnya tidak sulit, karena berangkat dari hasrat pengetahuan manusia sejak dari Nabi Adam as. Karena, pengetahuan tersebut, manusia menjadi “makhluk berbudaya ‘.
Pesantren sangat menjunjung tinggi hasrat pengetahuan. Ada banyak ayat Al Quran dan hadis hadis Rasulullah saw yang menyebutkan tentang ilmu. Karena, ilmu, bagi orang orang pesantren, manusia lebih unggul daripada malaikat dan iblis.
Pesantren dari aspek sejarah merupakan pengembangan dari tradisi masjid. Karena, masjid merupakan pusat informasi, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya secara umum. Perbedaan masjid dan pesantren adalah: jika masjid berfungsi sebagai sarana ibadah dan kegiatan kegiatan sosial, maka pesantren menghadirkan satu komunitas budaya dengan beragam kepentingan dan kebutuhan masyarakat.
Pesantren, Yayasan, dan Lembaga Ekonomi
Dalam menatap realitas kekinian, tidak bisa hanya memandang pesantren an sich sebagai lembaga keagamaan. Karena, pesantren pada hakikatnya adalah konsep budaya. Pesantren memerlukan masyarakat dalam membentuk keberlangsungan rutinitas beribadah seperti sholat berjamaah, mengumpulkan zakat, dan memperingati hari hari besar. Sehingga setiap pesantren mempunyai ciri khas tertentu. Tidak ada pesantren tanpa adanya masyarakat yang membentuk budaya.
Guna ketertiban administrasi dalam membangun relasi ke berbagai institusi dan masyarakat, pesantren memerlukan sebuah lembaga terstruktur sebagaimana yayasan. Pesantren bisa saja tanpa ada struktur, tapi akan lebih terprogram jika diadakan lembaga atau yayasan.
Begitu pula, dalam bidang bidang usaha yang dibangun oleh orang orang pesantren guna perbaikan ekonomi masyarakat, pesantren dapat membangun sebuah perusahan atau bank. Pesantren memiliki peranan dalam meningkatkan produksi barang, mengatur modal, dan distribusi distribusi perekonomian. Tidak sedikit pesantren yang memiliki usaha usaha seperti pabrik kerupuk, pabrik tempe, pabrik rokok, industri batik, industri sarung, industri air mineral, dan sebagainya.














