Guru Guru Mulia
Semua guru yang ada di Pesantren Tebuireng secara kognitif memengaruhi Ahmad Musta’in. Namun, di antara guru guru yang dipandang sangat berjasa dan banyak memengaruhi kepribadiannya, terutama dalam bidang Al Quran, antara lain adalah Muhbib bin Muthahhar, pamannya sendiri.
Bukan hanya itu, Ahmad Musta’in pada suatu ketika pernah dimintai kata pengantar sebuah buku berbarengan dengan nama Prof Dr Amin Abdullah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan seorang tokoh Muhammadiyah. Dengan tawadu ia berkata, “Ini sudah ada Prof Amin, guru saya.” Semula terdengar nada enggan dan sungkan, namun setelah dijelaskan oleh pihak penerbit, Ahmad Musta’in pun masih berkenan untuk menuliskan kata pengantar.
Muhbib bin Muthahhar adalah adik kandung ibundanya. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Huffaz Yanbu’ul Quran, yang diasuh oleh KH Arwani Amin, Kudus, (1905-1994). Ia mendirikan Pondok Pesantren Huffaz Raudhatul Quran di Madiun yang banyak dikunjungi oleh parasantri untuk belajar ilmu agama. Ia banyak memperhatikan, mengawasi perkembangan keilmuan, dan memenuhi kebutuhan hidup Ahmad Musta’in, baik secara moral dan materi, ketika masih menjadi santri di Tebuireng. Terutama, ketika masih masa swal di pesantren tersebut. Dari pamannya, Ahmad Musta’in banyak mengambil spirit belajar untuk menghafal Al Quran secara lancar dan fasih.
Sosok kedua yang cukup mempengaruhi kepribadian Ahmad Musta’in adalah KHM Adlan Aly (1900-1990). Ia lahir di Maskumambang, Sedayu, Gresik, pada tanggal 3 Juni 1900. Ia adalah adik kandung Syekh M Maksum Aly, pendiri Pesantren Seblak.
KHM Adlan Aly terkenal sebagai seorang guru sufi (thariqah) yang hafal Al Quran 30 juz di bawah asuhan KH Munawwar, pengasuh Pesantren Kauman, Sedayu, Gresik. Setelah selesai menghafal Al Quran, KHM Adlan Aly melanjutkan studinya di Pesantren Tebuireng mengikuti jejak kakaknya untuk berguru kepada Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari.
Di kemudian hari, KHM Adlan Aly dijodohkan dengan Nyai Halimah yang tak lain adalah keponakan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari sebagai istri kedua, setelah istri pertamanya (Nyai Romlah) meninggal dunia pada 1939.
Pada 1951, atas perkenan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari, KHM Adlan Aly mendirikan Pondok Pesantren Putri “Wali Songo”, Cukir. Ia juga menjadi mursyid Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsabandiyyah).
Pada usia 90 tahun, KHM Adlan Aly wafat, tepatnya pada tanggal 6 Oktober 1990 dan dimakamkan di komplek pemakaman zuriah Pesantren Tebuireng yang terletak di sebelah barat masjid.
Tokoh ketiga adalah Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar (1925-1993). Nama lengkapnya adalah Muhammad Yusuf bin Masyhar. Ia dilahirkan di Desa Jenu, Kabupaten Tuban, pada 1925.
Ketika masa muda, Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar sangat rajin mempelajari ilmu ilmu agama, terutama ilmu Al Quran, yang dipelajarinya dari parakiai masyhur di pulau Jawa seperti KH Husein, Tuban, dan KH Dahlan Khalil, Rejoso, Jombang.
Setelah selesai menghafal Al Quran, Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar melanjutkan studinya di Pesantren Tebuireng. Selama di Tebuireng, ia menjadi salah satu murid kesayangan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari karena ia seorang hafidh yang paling muda dan memiliki suara merdu di antara santri santri lainnya.
Pada saat Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar berusia 24 tahun, ia dinikahkan dengan cucu Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari yang bernama Ruqayyah binti KH Ahmad Baidhowi. Ruqayyah menjadi pilihan, karena pada saat itu semua putri putri Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari sudah menikah.
Pada tanggal 27 Syawal 1319 H atau 15 Desember 1971, dari hasil musyawarah sembilan kiai pondok pesantren dan pengasuh pondok pesantren di seputar Tebuireng didirikanlah Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng. Ketika itu yang menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng adalah KHM Yusuf Hasyim periode 1965-2006.
Sebagai perwujudan cita cita luhur dari Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari (1871-1947) dan KHA Wahid Hasyim (1914-1953) untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Al Quran, maka ditetapkanlah Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar sebagai pendiri sekaligus pengasuh pertama pesantren tersebut. Sekarang, Pondok Pesantren Madrasatul Quran dipimpin secara kolektif oleh putera puteranya yang bernama KH Abdul Hadi Yusuf SH bersama KH Ahmad Musta’in Syafiie, M. Ag, serta KH Ahmad Syakir Ridlwan, Lc, MHI.
Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar memiliki karomah yang besar, khususnya di bidang Al Quran. Santri santri yang diasuh olehnya, kebanyakan menjadi pemimpin pemimpin dan kiai kiai besar. Dan, rata rata mendirikan pondok pondok pesantren di seluruh Indonesia. Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar adalah perumus Qiraah Al Masyhurah Al Muwahhadah (cara baku membaca Al Quran) bagi kalangan santri santri Pondok Pesantren Madrasatul Quran. Maka, tidak heran, jika kemudian ciri khas bacaan santri santri Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar tersebut dapat dikenal di setiap tempat dengan kekhasannya.
Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar wafat pada tanggal 3 Ramadahan 1414 H atau 12 Februari 1994 setelah dirawat di RSUD Jombang. Ia disemayamkan di sebelah barat masjid, komplek pemakaman Pondok Pesantren Madrasatul Quran.
Ada beberapa pesan Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar kepada parasantrinya:
“Ojo lali, sholate dijogo!” (jangan lupa, sholat dijaga!); “Wes, nggak usah belajar ilmu kanuragan, sholawate wae seng akeh!” (Sudahlah, tidak usah belajar ilmu kanuragan, perbanyak saja sholawat!); “Aku nggak duwe opo-opo, mung duwe Al Quran lan sholawat.” (Aku tidak punya apa apa, hanya Al Quran dan sholawat); “Ngaji ojo kesusu seng penting sitik tapi bener.” (Kalau mengaji jangan tergesa gesa, sedikit yang penting benar).
Ahmad Musta’in banyak menimba ilmu dari Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar ini, bahkan dapat dikatakan sebagai guru utamanya.
Karya-karya Tertulis
Pada praktiknya, tafsir itu adalah Ahmad Musta’in sendiri. Tutur bahasanya baik dan jeda. Mudah dicerna. Dalam berbagai forum, Ahmad Musta’in terlihat jarang membawa buku atau kitab, seolah tafsir telah merepresentasi ke dalam gerak gerik bahasa tubuhnya.
Ahmad Musta’in termasuk orang yang kreatif dan produktif, selain aktif memberikan pelajaran keagamaan, baik di Pesantren Tebuireng, pondok pondok pesantren lain di sekitar Tebuireng, maupun di perguruan perguruan tinggi. Tulisannya pun tidak sedikit dalam bentuk berbagai artikel yang dimuat di media media masyarakat, di samping materi materi ceramah dan khutbah yang sudah dibukukan.
Di sela sela kesibukannya, Ahmad Musta’in juga terlibat di berbagai kegiatan ilmiah, menjadi pembicara di seminar seminar, baik dalam maupun luar negeri. Yang tidak kalah penting adalah keaktifannya dalam kegiatan tulis menulis di media massa, seperti Tafsir Al Quran Aktual (Koran Harian Bangsa sejak tahun 2000); “Menafsirkan Ilmu Tafsir”, Jurnal Gerbang, Nomor 11, Vol IV, 2002; Tafsir Quran Aktual, 3 Jilid (Jombang: PP. Madrasatul Quran Tebuireng, 2000); Tafsir Al Quran Bahasa Koran, Buku 1, Cet. 1, (Surabaya: Harian Bangsa, 2004); pengasuh rubrik tafsir pada Majalah Risalah Nahdlatul Ulama, Nomor 1, Tahun I (Rajab 1428 H); dan, Majalah Tebuireng (Media Pendidikan dan Keagamaan), Edisi 1, Tahun I, (Juli-September 2007) dan lain-lain. Ahmad Musta’in juga menjabat sebagai Dewan Redaksi pada penerbit eLSAQ Press Yogyakarta bersama Prof Dr Phil HM Nur Kholis Setiawan, MA dan Dr Phil Sahiron Syamsuddin, MA.
Kegiatan tulis menulis tersebut, bagi Ahmad Musta’in, merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan dari aktivitasnya. Terbukti, hasil dari karya monumentalnya (sampai saat ini) adalah Tafsir Al Quran Aktual, yang sejak Maret 2000 hingga sekarang masih tetap eksis ditulis. Kehangatan bahasa tuturnya dalam menyapa audiens dan pembacanya maka tafsit tersebut disebut “aktual”.















