Kebiasaan Literasi di Pesantren
Tebuireng-jatim.net26.id – Kebutuhan literasi di era Revolusi 5.0 saat ini tidak dapat dihindari oleh setiap orang. Namun, gerakan literasi berskala nasional yang sedang digalakkan oleh pemerintah belakangan ini sebetulnya terhitung sangat terlambat, bila dibandingkan dengan kegiatan kegiatan di dunia pesantren yang sudah sedia sejak zaman dahulu kala. Di pesantren, setiap santri tidak hanya dituntut untuk mampu membaca huruf Arab gundul saja, melainkan dilatih untuk memaknai, memahami, memproyeksikan kembali melalui tulisan tulisan, serta menjalani perilaku amaliah salehah dari hasil hasil literasi tersebut. Dengan kata lain, literasi di pesantren pesantren capaian sebenarnya jauh lebih sulit daripada yang digunakan sehari hari melalui huruf Latin dan bahasa Indonesia.
Sebagaimana diketahui, pihak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan program Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sebagai penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat, terutama literasi membaca dan literasi matematika atau numerasi.
Sementara kementerian Agama RI menerbitkan Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) yang dilakukan pada siswa madrasah sebagai metode penilaian yang komprehensif untuk mendiagnosis kelebihan dan kelemahan siswa pada literasi membaca, literasi numerasi, literasi sains, dan literasi sosial budaya, termasuk survei karakter.
Hasil asesmen tersebut dapat digunakan oleh guru untuk memperbaiki layanan pendidikan yang dibutuhkan siswa sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran. Sementara bagi murid, asesmen tersebut sejak dari dini dapat digunakan oleh setiap santri di dalam menilai diri sendiri dan lingkungannya.
Langkah Penyesuaian Diri
Langkah langkah literasi di MTs MQ sebenarnya upaya pembiasaan saja. Mengajarkan dan mendidik siswa sejak dini untuk rajin membaca, memahami, dan menulis kembali. Salah satunya dengan menggunakan metode jurnalistik yang bersifat investigatif. Jika dulu setiap santri hanya berliterasi dengan kitab kitab kuning, sekarang programnya ditambah dengan berliterasi huruf Latin sehingga hasil hasilnya dapat disebarluaskan ke masyarakat umum.
Sebagaimana diberitakan, Selasa, 23/8/2022, Azzam, siswa kelas 8 A MTs MQ Tebuireng telah mengirimkan karyanya sebagai hasil pembelajaran ekstrakurikuler jurnalistik MTs MQ yang diampu oleh salah satu wartawan yang diadakan setiap hari Rabu. Pembelajaran ini diagendakan agar kegiatan literasi siswa MTs MQ semakin menggeliat dan bisa tetap eksis.
Sebelumnya, Kamis, 18/8/2022, MTs. MQ telah mengadakan Diklat Jurnalistik yang diikuti oleh beberapa siswa MTs MQ. Diklat tersebut diadakan oleh MTs MQ sebagai pembelajaran tambahan ekstrakurikuler dan pembiasaan agar tidak kaget secara untuk siswa siswa secara umum dan yang berbakat dan berminat di jurnalistik secara khusus.
Diklat tersebut dibimbing oleh Pak Rojif yang telah diminta untuk mengajar di beberapa sekolah dan madrasah seperti Madrasah Aliyah MQ, SMP A Wahid Hasyim, dan sebagainya. “Semoga kedepannya, ekstrakurikuler jurnalistik ini dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya, dan nama MTs. MQ semakin dikenal oleh masyarakat luas,” ungkap M Fuad Taufiq, MSi, selaku Kepala MTs MQ.
Literasi sebagai Filsafat Praktis
Banyak kalangan yang menyangsikan jika filsafat tidak bisa diterapkan sejak dini. Pemikiran yang mendakik dakik pada filsafat tidak bisa diterapkan, terutama bagi kalangan santri yang dapat menggoncangkan keimanan dan ketauhidan. Padahal, Ketika manusia bertauhid, berfiqh, berbahasa, dan lain sebagainya tidak dapat dilepaskan dari filsafat. Contoh, bagaimanakah seorang faqih (ahli fiqh) membuat sebuah keputusan fiqh, tatacara (kaifiyah), dan kaidah kaidah fiqh (ushul fiqh) tanpa menggunakan filsafat? Filsafat sebagai proses berpikir seseorang senantiasa mencari jalan alternatif dari setiap kebuntuan persoalan sehingga menjadi sebuah rumusan yang berfungsi manfaat bagi masyarakat.
Literasi, terutama menulis kembali pokok pokok pikiran, merupakan filsafat praktis, karena setiap orang dituntut untuk paham dan mampu merumuskan kembali pikiran pikirannya secara sistematis dan dapat diterima semua kalangan. Melalui literasi, setiap santri sudah berfilsafat secara praktis di dalam mempraktikkan ajaran ajaran dan tuntunan tuntunan agama. Dengan berliterasi, ajang filsafat prakltis akan semakin relevan bagi siswa siswa didik MTs MQ.
Foto Foto Kegiatan

















