Hobi Hobi Nyeleneh
Setelah dipandang cukup, Ahmad Musta’in pun dipercaya untuk mengajar tafsir Al Quran di Tebuireng. Dia termasuk santri “Produk Asli Tebuireng” yang memiliki kepantasan menjadi seorang kiai setelah terjadi perubahan besar pada struktur pesantren pasca-KH Idris Kamali. Sebagaimana KH Idris Kamali (1887-1984) memiliki program takhasus “Madrasah Kader Ulama” yang melahirkan figur figur mumpuni seperti KH Ma’ruf Amin dan Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub (1952-2016).
Ahmad Musta’in kemudian mulai mengkaji Al Quran dan mendalami tafsir. Dari latar belakang keluarga dan pendidikan yang dilaluinya, tampak bahwa hal itulah yang menjadikannya sosok yang mempunyai kompetensi menonjol dan mendalam di bidang Al Quran dan Tafsir.
Tidak seperti kebanyakan guru lain, ternyata Ahmad Musta’in tidak suka menonjolkan identitas kekiaiannya. Ia bahkan tidak mau terkungkung dalam tradisi homogenitas pesantren yang hanya mewarisi ilmu keagamaan, khususnya perihal tafsir Al Quran. Ia lebih suka berkreasi. Maka, konsekuensinya, ide idenya kontroversial seperti perdebatannya dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) mengenai persoalan “memadrasahkan Al Quran” di Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng. Padahal, Gus Dur sendiri yang telah merancang pertama kurikulum di MQ Tebuireng tersebut.
Dalam banyak hal, Ahmad Musta’in lebih salut pada penafsir penafsir muslim jebolan Eropa daripada Timur Tengah, karena kaya akan metodologi sehingga mereka mampu melakukan improvisasi dalam menafsirkan Al Quran melalui instrumen instrumen tafsir.
Sosok progresif pada diri Ahmad Musta’in bukanlah sesuatu yang aneh karena ia adalah anak seorang nelayan. Sejak lahir, ia sudah terbiasa hidup di lingkungan alam bebas, di pinggir pantai dan memandang lautan yang penuh riak gelombang sehingga dapat memengaruhi filosofi kehidupannya dalam memandang dunia secara bebas dan tanpa sekat bagaikan memandang lautan yang tak bertepi.
Sebagaimana contoh yang telah diungkapkan oleh Zamakhsyari Dhofier dalam disertasinya bahwa ketika di Pesantren Tebuireng, Ahmad Musta’in sering dilihatnya memutar kaset-kaset ABBA dan “The Beatles” padahal ketika itu kamarnya berada di samping ruang pengimaman masjid Tebuireng. Ia adalah seorang yang hafidh serta menjadi salah seorang khatib tetap di Pesantren Tebuireng. Begitu juga, pada tanggal 23 Juni 1978, Ahmad Musta’in melancarkan kritik pedas melalui khutbah Jumat, bahwa kedudukan ilmu Agama di Pesantren Tebuireng dianggapnya semakin terdesak oleh ilmu pengetahuan umum. Dikatakannya ketika itu, Pesantren Tebuireng lebih cenderung mendidik calon calon insinyur, pengacara, dokter, dan lain-lain; serta tidak lagi mengutamakan pendidikan ulama. Sehingga pada akhirnya (pada sore hari yang sama) gurunya, KH Syansuri Badawi, merespons terhadap kritik Ahmad Musta’in tersebut dengan menjelaskan bahwa:
“Banyak perbuatan manusia yang nampaknya hanya bertalian dengan urusan-urusan duniawi, tetapi karena niatnya yang bagus maka perbuatan tersebut diterima oleh Allah swt sebagai amal akhirat. Tetapi banyak pula perbuatan manusia yang nampaknya bertalian dengan urusan urusan akhirat tetapi karena disertai dengan niat yang buruk, maka Tuhan tidak memberinya pahala sama sekali.”
Kritis Tapi Tetap Tawadu
Dari kenyataan tersebut, Ahmad Musta’in menunjukkan sudah sangat terbiasa kritis dan responsif terhadap lingkungan di sekitarnya. Apalagi ditunjang dengan pendidikan formal yang dilaluinya dari Pesantren Tebuireng hingga Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang memberikan ruang kebebasan untuknya berpendapat.
Mengenai tafsir Al Quran, Ahmad Musta’in berpendapat, untuk memahami tafsir Al Quran saat ini, orang harus menguasai: pertama, latar belakang historis (khusus al sabab; kedua, bias (memahami deviasi, penyimpangan makna) lafadh yang biasa disebut ‘umum al lafdhi; ketiga, munasabah; dan, keempat siyaq al kalam. Dengan demikian, maka Al Quran akan dinamis dan tidak akan pernah habis maknanya sepanjang zaman.
Menafsirkan Al Quran dengan selalu melakukan analisis aktual dan dikaitkan dengan situasi sosial yang sedang terjadi. Tidak hanya itu, metode tafsir yang ditelorkannya juga membentuk wacana keagamaan baru, mencerahkan kehidupan masyarakat muslim Indonesia.
Tidak banyak kiai yang hidup di lingkungan pesantren salaf yang berani medekontruksikan wacana keagamaan seperti dilakukan oleh Ahmad Musta’in, apalagi berkenaan dengan tafsir dan ilmu Al Quran, karena bisa menjadi sasaran kritik. Tapi, Ahmad Musta’in tampaknya punya alasan kuat. Karena, ia berani melangkah. Misalnya, pada 1980-an, ia mendapat kritik dari banyak ulama gara gara tafsir gendernya. Ia memperbolehkan wanita potensial seperti wanita hafidhah menjadi imam di hadapan laki laki awam di ruangan tertutup, apalagi masih dalam lingkungan keluarga. Padahal, pada umumnya, para kiai tidak membolehkan terhadap hal tersebut.
Begitu juga, pada awal 2000, ketika ia menjabat Dekan Fakultas Dakwah Institut Keislaman Hasyim Asya’ri (IKAHA), Jombang, selama dua periode, ia menyampaikan orasi ilmiah di acara wisuda hafidh di Pondok Pesantren Madrasatul Quran tentang kritik historis pembukuan Al Quran pada periode awal. Ia menyatakan, isi hadis yang menerangkan tentang orang yang membaca surat al Ikhlas seperti membaca keseluruhan Al Quran dan mushaf-mushaf yang ditulis sahabat di atas pelepah kurma adalah ahistoris.
Menurutnya, hadis yang berangkat dari kisah Nabi saw ketika mengambil menantu sahabat Ali ibn Abi Thalib Karramallahu Wajhah melalui lomba baca Al Quran sampai khatam itu tidak sesuai dengan realitas sejarah. Sebab, Al Quran Ketika itu belum diturunkan seutuhnya sebanyak 30 juz seperti sekarang ini.
Demikian juga dengan kebenaran cerita awal penulisan mushaf di atas pelepah kurma, batang pohon dan di atas batu pada periode awal. Menurutnya, teknologi lembaran pada zaman itu sudah ada, juga benda benda halus, kain, dan kertas. Bahkan, benda benda itu sudah tersedia sejak zaman Nabi Sulaiman as.
Terbukti dalam suatu ayat, Sulaiman as pernah mengirim surat kepada Ratu Bilqis melalui burung Hud-hud “Innahu min Sulaimana wa innahu bismillahirrahmanirrah}im.” Secara logis, betapa ringan benda itu sehingga burung Hud-hud mampu membawa surat Nabi Sulaiman as tersebut. Di samping itu juga, tidak mungkin sahabat sahabat menulis Al Quran di tempat kotor seperti itu. Jadi, hal ini menurutnya hanyalah bahasa metaforik yang digunakan oleh parapenulis Arab sebagai bahasa kiasan yang digunakan untuk mendramatisir sportivitas, bukan arti lahirnya. Dan, masih banyak lagi contoh contoh dekontruksi wacana keagamaannya yang berbeda dengan mainstream keagamaan mayoritas ulama, khususnya di Indonesia.
Sejak 1980 hingga sekarang, Ahmad Musta’in adalah Mudir (Direktur) Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng bersama KH Abdul Hadi Yusuf, SH dan KH Ahmad Syakir Ridwan, Lc, MHI. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi dosen di IKAHA hingga sekarang. Ahmad Musta’in juga sering disibukkan dengan persiapan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) dan MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub) tingkat nasional. Ia bahkan, sering dilibatkan dalam penjurian MTQ dan MQK, terutama di tingkat nasional.
Walaupun beliau sangat menguasai khazanah ilmu klasik dan paham ilmu ilmu modern, kritis, fasih berbahasa Arab dan paham bahasa Inggris, tetapi sikapnya selalu tawadu (rendah hati) dan santun. Hal ini ditunjukkan oleh Ahmad Musta’in untuk enggan mendirikan pondok pesantren sendiri beberapa lama. Selamanya, ia mengklaim diri sebagai santri Pesantren Tebuireng. Dan, persoalan kesibukan di luar Pesantren Tebuireng adalah nomor terakhir, meskipun karena dipanggil presiden! Baginya, Pesantren Tebuireng, terutama MQ Tebuireng, adalah nomor satu.
Setelah bertempat tinggal di rumah yang pernah menjadi awal mula beridirnya MQ Tebuireng (ketika masih satu kompleks di dalam area Pesantren Tebuireng) dan juga rumah tinggal KHA Wahid Hasyim. Kini, Ahmad Musta’in sudah memiliki rumah senidri di luar area Pesantren Tebuireng dan dititipi beberapa orang santri.















