Eros Djarot dalam salah satu wawancara mengungkapkan kegeramannya pada aktivis aktivis kampus yang membiarkan situasi sosialnya. Tidak memiliki kepekaan dan kepedulian sosial. Tentu, kritik akademisi ini terus akan berlanjut sejalan peran Tri Dharma perguruan tinggi yang hanya membatasi pada kuliah kerja nyata (KKN) dan sejenisnya sebagai bentuk partisipasi terhadap masyarakat. Sebagaimana Tri Dharma perguruan tinggi meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Beban Berat Perguruan Tinggi dan Peran Pesantren
Belakangan, kiai kiai Pesantren Tebuireng dan sekitarnya bersatu padu, turun gunung. Tidak ada tendensi bermuatan politik, kecuali silaturahim, menyapa santri santri alumni, serta mengaji. Sama seperti suasana dan tradisi ketika masih di pesantren. Kegiatan tersebut terus digalakkan, tidak saja di sekitar Kabupaten Jombang saja melainkan seluruh Indonesia. Ini hanya salah satu contoh saja. Masih banyak kiai kiai dan pesantren pesantren yang terus menjalin tali silaturahim kepada paraalumni setelah selesai mesantren.
Sebagai lembaga pendidikan administratif, tugas perguruan tinggi memang tidak ringan belakangan ini. Terutama, di dalam meningkatkan kualitas dan kualifikasinya. Di satu sisi, perguruan tinggi dapat secara leluasa dalam menjalin kerjasama dengan pihak kedua atau pihak ketiga untuk memajukan pendidikan dan dunia kerja. Dan, tidak sedikit pula, perguruan perguruan tinggi yang menjalin kerjasama dengan perusahaan perusahaan tertentu untuk meningkatkan kualifikasi paramahasiswa dengan dunia kerja dan kemajuan ilmu pengetahuan. Tentu, yang dilakukan oleh perguruan perguruan tinggi tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh pesantren sebagaimana Pesantren Tebuireng di atas. Perguruan tinggi tentu memiliki keunggulan dan bekal pengalaman administratif. Sementara, pesantren menjumpai paraalumni yang terkadang masih sulit mencari posisi mereka di masyarakat.
Menyikapi Perubahan
Sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda (PHB), perguruan tinggi memang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan adminstratif, terutama birokrasi. Sehingga kebanyakan negara negara hasil bentukan kolonialisme “modern” hanya sebatas pada kemajuan administrasi ini yang ditandai dengan munculnya “kalangan birokrat”. dan, karena PHB merupakan kelanjutan dari VOC, sebuah perusahaan dagang Belanda, maka birokrasi yang terbentuk pun bercorak dagang. Walhasil, PHB pun lebih bercorak kepada negara administrasi perusahaan dagang yang tidak mengutamakan kepada pelayanan pada masyarakat. Melainkan, mencari cari keuntungan dari aspek aspek administrasi dan birokrasi.
Banyak kalangan budayawan dan seniman memaknai kata “kontemporer” sebagai sebuah genre yang lahir di kekinian. Tidak salah, jika kegiatan kontemporer tersebut menyajikan sesuatu yang baru dari hasil beberapa unsur yang bersifat kolaboratif. Namun, jika membaca kontemporer sebagai sesuatu yang benar benar baru, maka hal itu bisa dianggap salah. Artinya, tidak ada sesuatu yang benar benar baru di bawah matahari. Oleh karena itu, kontemporer (co-temporary) akan lebih pas bila dimaknai sebagai respon positif terhadap hal hal baru datang sehingga dapat melahirkan varian “baru”. Gampangnya, untuk menghasilkan pemain sepakbola yang bagus misalnya, maka diperlukan naturalisasi. Begitu pula, pada aspek seni musik, untuk mengontemporerkan pantun dan gendang, maka H Rhoma Irama menciptakan musik dangdut dengan memadukan pantun, gendang, dan gitar. Sebagaimana gitar merupakan alat musik yang dibawa dari daratan Eropa pada masa itu.
Tantangan besar budaya saat ini adalah teknologi, terutama internet. Hal ini jauh jauh hari sudah disadari, namun tidak memiliki strategi dan respon yang bersifat antisipatif. Sehingga dari aspek budaya terus mengalami kedodoran. Masyarakat secara literatif belum benar benar responsif. Dan, budaya lisan jauh lebih dominan daripada budaya tulis sebagaimana konten konten “kreatif” yang masih mengutamakan gambar gambar seragam. Sehingga, lagi dan lagi, ketika berbicara budaya masih terpaku pada konotasi busana. Sementara berbicara literasi masih berkonotasi “belajar menulis”.
Dari aspek budaya, kehadiran media-internet semestinya mampu memetakan materi materi budaya secara lebih spesifik untuk dihadirkan pada level yang lebih pantas.
Kebumen, 10 September 2022.















