• Terbaru
  • Populer

Budaya dan Diamnya Kaum Akademisi

10 September 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Jumat, 17 April 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Budaya dan Agama

Budaya dan Diamnya Kaum Akademisi

Bagus Dilla Ditulis oleh Bagus Dilla
10 September 2022
dalam Budaya dan Agama
| Waktu baca 2 menit
A A
145
VIEWS

Eros Djarot dalam salah satu wawancara mengungkapkan kegeramannya pada aktivis aktivis kampus yang membiarkan situasi sosialnya. Tidak memiliki kepekaan dan kepedulian sosial. Tentu, kritik akademisi ini terus akan berlanjut sejalan peran Tri Dharma perguruan tinggi yang hanya membatasi pada kuliah kerja nyata (KKN) dan sejenisnya sebagai bentuk partisipasi terhadap masyarakat. Sebagaimana Tri Dharma perguruan tinggi meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Beban Berat Perguruan Tinggi dan Peran Pesantren

Belakangan, kiai kiai Pesantren Tebuireng dan sekitarnya bersatu padu, turun gunung. Tidak ada tendensi bermuatan politik, kecuali silaturahim, menyapa santri santri alumni, serta mengaji. Sama seperti suasana dan tradisi ketika masih di pesantren. Kegiatan tersebut terus digalakkan, tidak saja di sekitar Kabupaten Jombang saja melainkan seluruh Indonesia. Ini hanya salah satu contoh saja. Masih banyak kiai kiai dan pesantren pesantren yang terus menjalin tali silaturahim kepada paraalumni setelah selesai mesantren.

ArtikelLainnya

Belum Ada Artikel
Tampilkan Yang Lain

Sebagai lembaga pendidikan administratif, tugas perguruan tinggi memang tidak ringan belakangan ini. Terutama, di dalam meningkatkan kualitas dan kualifikasinya. Di satu sisi, perguruan tinggi dapat secara leluasa dalam menjalin kerjasama dengan pihak kedua atau pihak ketiga untuk memajukan pendidikan dan dunia kerja. Dan, tidak sedikit pula, perguruan perguruan tinggi yang menjalin kerjasama dengan perusahaan perusahaan tertentu untuk meningkatkan kualifikasi paramahasiswa dengan dunia kerja dan kemajuan ilmu pengetahuan. Tentu, yang dilakukan oleh perguruan perguruan tinggi tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh pesantren sebagaimana Pesantren Tebuireng di atas. Perguruan tinggi tentu memiliki keunggulan dan bekal pengalaman administratif. Sementara, pesantren menjumpai paraalumni yang terkadang masih sulit mencari posisi mereka di masyarakat.

Menyikapi Perubahan

Sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda (PHB), perguruan tinggi memang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan adminstratif, terutama birokrasi. Sehingga kebanyakan negara negara hasil bentukan kolonialisme “modern” hanya sebatas pada kemajuan administrasi ini yang ditandai dengan munculnya “kalangan birokrat”. dan, karena PHB merupakan kelanjutan dari VOC, sebuah perusahaan dagang Belanda, maka birokrasi yang terbentuk pun bercorak dagang. Walhasil, PHB pun lebih bercorak kepada negara administrasi perusahaan dagang yang tidak mengutamakan kepada pelayanan pada masyarakat. Melainkan, mencari cari keuntungan dari aspek aspek administrasi dan birokrasi.

Banyak kalangan budayawan dan seniman memaknai kata “kontemporer” sebagai sebuah genre yang lahir di kekinian. Tidak salah, jika kegiatan kontemporer tersebut menyajikan sesuatu yang baru dari hasil beberapa unsur yang bersifat kolaboratif. Namun, jika membaca kontemporer sebagai sesuatu yang benar benar baru, maka hal itu bisa dianggap salah. Artinya, tidak ada sesuatu yang benar benar baru di bawah matahari. Oleh karena itu, kontemporer (co-temporary) akan lebih pas bila dimaknai sebagai respon positif terhadap hal hal baru datang sehingga dapat melahirkan varian “baru”. Gampangnya, untuk menghasilkan pemain sepakbola yang bagus misalnya, maka diperlukan naturalisasi. Begitu pula, pada aspek seni musik, untuk mengontemporerkan pantun dan gendang, maka H Rhoma Irama menciptakan musik dangdut dengan memadukan pantun, gendang, dan gitar. Sebagaimana gitar merupakan alat musik yang dibawa dari daratan Eropa pada masa itu.

Tantangan besar budaya saat ini adalah teknologi, terutama internet. Hal ini jauh jauh hari sudah disadari, namun tidak memiliki strategi dan respon yang bersifat antisipatif. Sehingga dari aspek budaya terus mengalami kedodoran. Masyarakat secara literatif belum benar benar responsif. Dan, budaya lisan jauh lebih dominan daripada budaya tulis sebagaimana konten konten “kreatif” yang masih mengutamakan gambar gambar seragam. Sehingga, lagi dan lagi, ketika berbicara budaya masih terpaku pada konotasi busana. Sementara berbicara literasi masih berkonotasi “belajar menulis”.

Dari aspek budaya, kehadiran media-internet semestinya mampu memetakan materi materi budaya secara lebih spesifik untuk dihadirkan pada level yang lebih pantas.

Kebumen, 10 September 2022.

Tag/kata kunci: Budaya
Artikel sebelumnya

Ketika Susastra Bicara (?)

Artikel berikutnya

Dapatkah Menghilangkan Mental Buruh?

Bagus Dilla

Bagus Dilla

*A writer and culture activities*

Artikel Lainnya

Belum Ada Artikel
Artikel berikutnya

Dapatkah Menghilangkan Mental Buruh?

Revitalisasi Pesantren Pesantren Tradisional

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply