• Terbaru
  • Populer

Urgensi Islam Nusantara Guna Kemandirian Bangsa

5 April 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Jumat, 17 April 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Nasional

Urgensi Islam Nusantara Guna Kemandirian Bangsa

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
5 April 2022
dalam Nasional
| Waktu baca 4 menit
A A
187
VIEWS

Tak lepas dari upaya berkhidmat kepada umat dan bangsa, KH Said Aqil Siroj mengetuai satu badan filantropi yang diberi nama “Islam Nusantara Foundation”.

Lalu, dimanakah letak urgensi dari pendirian lembaga ini?

ArtikelLainnya

Nusantara dalam Sebuah Imajinasi

13 September 2022
147

Amplop Kiai dan Korupsi

25 Agustus 2022
144

Fakta Miris Rumah Tinggal Layak Huni Shiddiqiyyah

22 Agustus 2022
141

Shiddiqiyyah Bangun 1167 Unit Rumah Layak Huni

21 Agustus 2022
162
Tampilkan Yang Lain

Mari kita lihat dari aspek-aspek yang selama ini menjadi kampanye besar KH Said Aqil Siroj! Pertama, dasar filosofis beragama. Kedua, lingkaran geopolitik Indonesia. Dan, ketiga, kebangkitan kesejahteraan umat dan bangsa.

Tulisan sederhana ini akan memberikan gambaran sedikit pengertian tentang masa depan dilihat dari tiga aspek tersebut. Sedikitnya lagi, akan memberikan pemahaman; kenapa Islam Nusantara masih menjadi bahan yang urgen untuk kemajuan di masa mendatang.

Tasawuf Falsafi sebagai Dasar Islamisasi

Islam Nusantara berulangkali dinyatakan oleh KH Said Aqil Siroj bukan merupakan sebuah mazhab baru. Hal ini menunjukkan ketawaduan Beliau untuk menahan gejolak-gejolak negatif yang bakal muncul sehingga menjadi isu kontraproduktif. Meskipun jika dilihat dari aspek filsafat, kemunculan sebuah mazhab adalah hal biasa. Bukan haram, karena sesuai tuntutan zaman sebagaimana hadis Rasulullah Saw menyebutkan akan lahir seorang mujtahid baru setelah kurun 100 tahun. Namun, karena bakal menjadi polemik yang tidak berkesudahan, maka isu mujtahid ini memang sebaiknya diabaikan saja.

Kaum Abangan pada dasarnya bukan sebuah entitas yang membangkang terhadap kekuasaan, melainkan masyarakat yang belum sepenuhnya mendapat proses Islamisasi sebagaimana sholat Wetu Telu bagi masyarakat suku Sasak di Nusa Tenggara Barat. Hal ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah penyimpangan (heresy) dari Islam. Pun, kaum Abangan di mayoritas masyarakat Jawa yang masih berkompromi pada ritual-ritual adat, terutama filosofi “suwung” sebagai metode kontemplasi “Manunggaling Kawula lan Gusti”. Di dalam banyak literatur tasawuf bukan pula sebagai penyimpangan. Metode-metode seperti makrifat, fana, hulul, dan mahabbah yang berkembang di dunia tasawuf merupakan implementasi pengislaman masyarakat Jawa secara harmoni.

Abangan, Entitas Binaan Parawali

Fahruddin Faiz (2021) menyebutkan di dalam channel YouTubenya, dualitas (dualisme) itu bagi orang Barat adalah konflik; baik-buruk, bagus-jelek, mancung-pesek misalnya. Keduanya kontradiktif. Dari aspek budaya, Samuel P Huntington menciptakan teori “Clash Civilization”, benturan budaya. Berbeda dengan pandangan dari orang Timur, memandang dualitas adalah saling komplementer, saling melengkapi. Maka, berbahagialah orang yang hidungnya mancung karena telah dilengkapi adanya yang pesek. Begitu sebaliknya.

Dua penulis buku-buku bertema Islam Nusantara, Agus Sunyoto dan Ahmad Baso, masih menggunakan terma Barat tersebut, budaya sebagai buah dari konflik. Manakala, pertama, Agus Sunyoto masih memperbandingkan hak kuasa, hegemoni, dalam menulis cerita atau sejarah. Teori hegemoni masih dipakai olehnya ketika menulis “Rahuvana Tattwa” misalnya. Ketika Rahwana menjadi korban hegemoni yang dilakukan oleh Rama.

Kedua, Ahmad Baso, menulis buku-buku tentang Islam Nusantara masih dengan kacamata yang hampir sama seperti Agus Sunyoto, teori Post-Kolonial atau Post-Tradisional. Kekurangpenguasaan Ahmad Baso terhadap konteks susastra masa lalu Nusantara menjadi bias kolonial atau bias tradisional terjadi. Materinya masih hampir sama dengan sejarawan-sejarawan Indonesianis merujuk pada temuan-temuan sejarawan luar negeri. Walhasil, produk-produk masa lalu yang dihadirkan, baik oleh Agus Sunyoto maupun Ahmad Baso, tidak membawa perspektif baru bagi wawasan pembaca kekinian, terutama sejarah. Sehingga asumsi yang timbul kemudian bagi pembaca tetap saja suatu pembenaran yang diciptakan oleh si pembuat teori hegemoni dan teori pascakolonial ke dalam karya-karya keduanya. Dengan kata lain, masa lalu turut hadir dan turut serta di dalam alam pikiran kekinian melalui kacamata yang sama, hegemoni dan kolonialisme.

Begitu pula pada konteks tradisi Abangan yang menjadi berhala zaman kekinian buatan Clifford Geertz, seorang penulis Amerika, tidak juga dapat ditemukan sesuatu yang baru, kecuali tunduk (manut) dan “madep mantep marang Clifford Geertz”.

Teori hegemoni dengan menghadirkan sosok Syekh Siti Jenar oleh Agus Sunyoto adalah pembenaran terhadap tarekat Akmaliyah yang dianutnya. Pandangan ini tentu sangat spekulatif untuk mengatakan Syekh Siti Jenar adalah pengamal tarekat Akmaliyah. Hal ini memang baru dalam pandangan Agus Sunyoto, namun membingungkan bagi pembaca, terutama bagi peneliti-peneliti Islam Nusantara.

Kaum yang dikenal sebagai Abangan tersebut tidak dihadirkan dalam representasi entitas binaan parawali (penyebar Islam). Melainkan, satu entitas binaan Syekh Siti Jenar yang membangkang terhadap kekuasan Sultan Trenggono. Sehingga sifat Abangan tersebut sangat parsial sekali dalam satu entitas minoritas, bukan dalam tahap mayoritas masyarakat yang belum terislamkan secara benar dari sudut pandang fiqhiyah.

Walhasil, kaum Abangan tetap sejati merepresentasikan diri sebagai “wong cilik” dengan kenyamanan “agama” mereka sendiri terisolasi dari kerumunan mayoritas priyayi, apalagi santri. Pengalaman inferior masih saja terjadi. Meskipun pada dasarnya mereka adalah binaan parawali seperti kaum wayangan yang dibina oleh Sunan Kalijaga, kaum bonangan yang dilestarikan oleh Sunan Bonang, kaum petani binaan Sunan Drajat, kaum pedagang oleh Sunan Kudus, maupun wong cilik yang hidup di tajug/pesantren dan fakir miskin menjadi binaan Sunan Gunungjati.

***

Dari sudut pandang harmoni, KH Said Aqil Siroj coba mendamaikan kesenjangan tiga tipologi Clifford Geertz yang sudah kadung diimani oleh banyak kalangan, terutama akademisi. Harmoni bukan dalam skala konflik sebagaimana iman akademisi Barat melalui hegemoni, kolonialisme, dan benturan. Begitu pula, hubungan Islam-fiqh dan Islam-tasawuf yang sering dibaca secara diametral berhadap-hadapan, selanjutnya konflik, mengalami harmonisasi dengan lentur saling mengisi dan saling melengkapi.

Satu pandangan geopolitik ketimuran sebagaimana dipraktikkan oleh Rusia saat ini telah memberi angin segar, terutama kemandirian dari berbagai segi. Islam Nusantara (India, Bangladesh, Myanmar, Malaysia, Thailand, Brunei, Indonesia, hingga Filipina) memiliki keragaman dan harmonisasi yang sama sebagai kawasan geopolitik, baik sejarah, sosial, ekonomi, teknologi, dan seterusnya budaya.

Cirebon, 4 April 2022.

Editor: Bagus Dilla
Tag/kata kunci: GeopolitikIslam Nusantara
Artikel sebelumnya

Putin, Agama, dan Masa Depan Geopolitik Global

Artikel berikutnya

Welfare State or Welfare Nation?

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Negara Kesatuan Republik Indonesia Samasekali Tidak Pernah Dijajah

21 Agustus 2022
162

Ada sebuah kebiasaan yang salah letak keliru pasang yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang umumnya menyebut frasa 17 Agustus Hari Kemerdekaan...

Selanjutnya

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

10 Agustus 2022
165

Pada Haul KH Zainuddin Djazuli di Pesantren Plosomojo, Kediri, Buya Said Aqil Siroj menyebutkan potensi besar yang dimiliki oleh pesantren, berupa...

Selanjutnya

Pesantren: Subkultur yang menjadi Perhatian

6 Agustus 2022
152

Untuk menulis lembaga pendidikan secara umum dan macam macamnya, maka ditulis menjadi "pendidikan Islam". Sementara pesantren memiliki ciri khas tersendiri dengan...

Selanjutnya

Sosialisasi Program dan Pembentukan Majelis Mujahid NKRI

4 Agustus 2022
137

Indramayu-Net26.id - Ketua Majelis Mujahid NKRI Indramayu, H Cecep, Kamis, 4/8/2022, secara aklamasi membentuk kepengurusan dan memimpin rapat sosialisasi program. Dalam...

Selanjutnya

Buya Uki: Pesantren Mati Karena Tidak Ada yang Istiqamah

1 Agustus 2022
146

Indramayu-Net26.id - Perkembangan sebuah pesantren sering mengalami pasang surut, karena biasa tergantung pada satu sosok figur. Hal ini menjadi perhatian serius...

Selanjutnya

Launching Kopi Dingin, Hj Eti Hermawati Harapkan UKM Tumbuh Signifikan

31 Juli 2022
135

Cirebon-Net26.id - Penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) nasional, Buya Uki Marzuki, memandang Cirebon akan menjadi ikon budaya yang signifikan. Hal...

Selanjutnya

Buya Uki: Kopi Dingin Hindari Dehidrasi di Kota Cirebon

31 Juli 2022
133

Cirebon-Net26.id - Hadir di Kota Wali Cirebon akan disajikan oleh suguhan khas atas keragaman. Keragaman itu tidak saja berupa suku-bangsa saja,...

Selanjutnya

Buya Uki Sambut Dr (HC) dr HR Agung Laksono di Cirebon

30 Juli 2022
133

Cirebon-Net26.id - Dalam suasana pulang kampung yang ceria, pertemuan silaturahim itu berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan di salah satu hotel ternama...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Welfare State or Welfare Nation?

Cinta Islam Melebihi Cinta Allah (Dunia yang Tak Semakin Aman)

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply