Sebagian besar orang memandang Al Quran hanya berbicara sebatas pokok pokok akhirat saja, padahal dalam banyak hal justeru berbicara tentang hukum alam atau “Kauniyah”; diantaranya adalah siklus umur manusia.
Menurut KHA Musta’in Syafiie, orang ketika menginjak usia 40 tahun selayaknya sudah memikirkan pensiun dini. Artinya, obsesi sudah tidak untuk diri sendiri lagi, melainkan investasi yang bisa dititipkan kepada anak, keponakan, dan orang orang lain yang bisa dipercaya.
Batas Usia Profetik
Namun, tidak jarang, justeru pada usia 40 tahun, orang orang semakin menggila dengan merasa terus kekurangan dan kekurangan demi kepuasan diri. Semakin serakah dalam menghabiskan tenaga dan pikiran. Maka, tidak heran, jika kemudian ada orang yang terjerumus ke dalam konspirasi jahat pada usia usia demikian.
Al Quran tidak mengajarkan demikian.
Rasulullah saw sebagai “Uswatun Hasanah” telah memberi contoh yang baik. Pada usia sebelum 25 tahun, Rasulullah saw sudah menjadi konglomerat sehingga mampu meminang janda kaya raya dari kalangan bangsawan terhormat. Tidak tanggung tanggung, pinangan itu dengan mas kawin yang sangat besar.
Pada siklus usia 40 tahun, Rasulullah saw sudah berpikir untuk orang lain dengan melakukan investasi sosial. Menanam kebaikan kebaikan dan menyampaikan Wahyu. Sehingga dana usaha yang diperoleh sedari muda difungsikan untuk investasi investasi sosial, terutama perjuangan agama.
Menelusuri Jalan Pulang
Pada usia 40, sudah saatnya semua pekerjaan didelegasikan kepada yang lebih muda. Karena, kegesitan sudah mulai berkurang.
Tidak usah takut dan khawatir, semua cita cita tidak akan tercapai. Justru, dengan pendelegasian itu, cita cita akan dapat terwujud.
Namun, hal yang terpenting, ketika sudah berusia 40 tahun tersebut sudah mengerti jalan kembali pulang. Jangan sampai pada usia demikian, kenakalan orangtua menjadi perilaku yang sudah dianggap biasa. Ada batasnya. Kalau di usia demikian masih juga nakal, maka bagaimanakah dengan anak anaknya?
Sejarah kenabian juga tidak mengajarkan untuk meninggalkan gelanggang dunia. Memang, ketika belum turun Wahyu, Rasulullah saw juga melakukan kegiatan kegiatan asketik. Orang Jawa bilang “tirakat” di gua Hira. Tapi, itu dalam rangka “turning frequency”. Melengkapi diri dengan perangkat perangkat sinyal untuk menangkap pesan pesan langit.
Dengan demikian, pada usia 40 ini, seseorang seharusnya sudah memiliki perangkat perangkat sinyal ini. Semakin “mbeling”, tingkat error-nya semakin tinggi. Dengan kata lain, usia 40 dapat menjadi tolok ukur baik buruknya seseorang. Semoga bermanfaat!














