Persatuan dan kesatuan dalam keragaman adalah cita-cita leluhur. Untuk mewujudkannya diperlukan suatu gerak pemahaman yang mendalam atas dasar sejarah budaya bangsa. Sejak masa-masa lalu yang panjang.
Disadari, memang, ada masa-masa gelap yang pernah menutupi panggung sejarah, bahkan banjir darah yang mengorbankan anak-anak Pertiwi. Namun, keadaan sebenar demikian yang mengharuskan. Sudah diantisipasi sedemikian rupa, namun kehendak tak dapat dielakkan. Peristiwa-peristiwa kelam itu dapat tercatat dengan baik dalam ingatan dengan jumlah korban yang tak terhitung. Dengan atas nama apapun, peristiwa demi peristiwa telah terjadi.
Kekuatan dan kebesaran Nusantara didukung penuh oleh materi. Materi alam maupun cerita. Dua kekuatan yang menyebabkan selalu dilemahkan. Sumberdaya dikuras, narasi selalu dibelokkan. Sehingga kekuatan sebenar yang dimiliki oleh imaginasi menjadi tergerus oleh kekuatan-kekuatan untuk mengalahkan. Dan, sejarah budaya pun dibalik.
Jika dahulu Nusantara tidak mengenal perbudakan, bahkan dalam epicentrum kekinian justeru menjadi eksploitasi yang mengidola. Maka, menjual tenaga kerja menjadi keinginan bangsa yang dahulu pernah berjaya. Terpuruk ke dalam eksploitasi industri rumah tangga di negeri asing.
Benar kata Sigmund Freud (1856 – 1939), mimpi adalah alam di bawah sadar. Sebuah kesadaran irrasional yang mengendap di dalam setiap ingatan-ingatan manusia. Kesadaran yang hadir di dalam ketaksadaran, ketika sedang bermimpi. Dengan kata lain, tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar.
Ada banyak model kesadaran ini muncul ke permukaan, berupa: mitologi, impian, igauan, atau bahkan imaginasi. Kesadaran yang dianggap mustahil, khayalan, atau kebohongan-kebohongan. Sehingga alienasi bagi yang percaya kepada hal-hal ini dicap sebagai irrasional di luar akal sehat (common sense).
Demikian, Nusantara hanya seperti mimpi, imaginasi, khayalan, bahkan suatu kemustahilan dan kebohongan belaka, karena secara legalformal tidak pernah ada. Bahkan, sejak masa kerajaan. Nusantara hanya imaginasi yang tak pernah ada. Maka, tidak salah, jika kemudian kata Nusantara dinilai subversif oleh Belanda. Hempasan gelombang riuh rendah kecamuk yang hingga kini masih dirasakan tidak terlepas dari pandangan ini. Isu-isu ideologi dan agama yang marak dan menggoncangkan jagad pemahaman dunia Indonesia muncul, karena kekokohan pandangan tentang Nusantara itu sendiri masih lemah, baik secara faktual maupun historikal. Untuk tidak mengatakan, jika kata Nusantara hanya igauan dan mimpi Mahapatih Gajahmada.
Namun, itulah kenyataan. Badai yang menerpa kenusantaraan akan terus menjadi night mare, mimpi buruk. Terkhusus, bagi bangsa Indonesia yang selalu memimpikan kejayaan masa silamnya. Walhasil, perlu kerja keras untuk menjadikan irrasional menjadi rasional. Menjadikan Nusantara benar dan nyata di dalam kehidupan segenap bangsa Indonesia. Dengan cara apa? Mungkin dengan mengeksplorasi mimpi-mimpi itu menjadi nyata.
Trenggalek, 27 April 2017.



























