• Terbaru
  • Populer

Regenerasi Itu Bernama Gus Dur dari Tebuireng

22 Mei 2022
https://www.wallstreetmojo.com/welfare-state/

Welfare State, Pembangunan Ekonomi Berstandar Sedekah

16 November 2022

Benteng Alam, Rumah Perlindungan Raja Raja Nusantara

12 November 2022

Menjaga Warisan Kiai dan Madrasah pun Berinovasi

31 Oktober 2022

Ketika Ritual Seks Dilakukan di Kuburan

23 Oktober 2022

Lukisan Habib Luthfi Laku Dijual Ratusan Juta

18 Oktober 2022

Menimbang Presiden dari Kalangan Santri

12 Oktober 2022

Anak Pesisir yang Menjadi Ahli Tafsir

9 Oktober 2022

30 September Malam

1 Oktober 2022

Rajapandita dan Perspektif Sejarah Nusantara

1 Oktober 2022

2024 of The Series: Jangan Kau Mengeluh

30 September 2022
Foto Koleksi Galeri MQ Tebuireng

Memahami Al Kitab, Memanusiakan Al Quran

22 September 2022

NU, Muhammadiyah, dan Restorasi Meiji (II)

19 September 2022
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, 18 April 2026
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Jateng | Net26.id
Beranda Nasional

Regenerasi Itu Bernama Gus Dur dari Tebuireng

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
22 Mei 2022
dalam Nasional
| Waktu baca 3 menit
A A
450
VIEWS

Upaya regenerasi di lingkungan Pesantren Tebuireng menjadi perhatian besar. Hal ini sudah tertanam sejak masa Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari (1871-1946).

Dari mana melihatnya?

ArtikelLainnya

Nusantara dalam Sebuah Imajinasi

13 September 2022
147

Amplop Kiai dan Korupsi

25 Agustus 2022
144

Fakta Miris Rumah Tinggal Layak Huni Shiddiqiyyah

22 Agustus 2022
141

Shiddiqiyyah Bangun 1167 Unit Rumah Layak Huni

21 Agustus 2022
162
Tampilkan Yang Lain

Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari bisa dikatakan termasuk tokoh yang “memecah” tradisi. Pecah bakoh, orang Jawa bilang. Atau, memecah rekor dalam istilah lain.

Pertama dan yang utama adalah dari segi kepemimpinan.

Tidak ada yang meragukan kepemimpinan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari sebagai tokoh umat Islam, bahkan dunia. Namun, dari hal yang kecil, Hadratussyekh tidak ingin memonopoli kepemimpinan. Hal ini tampak dari tugas menjadi imam sholat rawatib (lima waktu). Tugas mengimami sholat rawatib di masjid Kasepuhan Pesantren Tebuireng tidak diambil alih sendiri. Melainkan, bergilir, baik oleh santri-santri senior maupun putera-putera sendiri. Di saat pesantren-pesantren lain masih mempertahankan pola kepemimpinan tunggal manakala sang kiai dominan memimpin sholat lima waktu, Hadratussyekh memecah tradisi ini dengan mendelegasikan kepada santri-santri atau putera-putera yang dipandang mampu. Mungkin ini yang dinamakan dengan demokrasi atau istilah manajemennya, the right man is the right place. Menempatkan orang secara proporsional pada posisinya masing-masing.

Kepemimpinan ideal

Itu terjadi sejak awal Pesantren Tebuireng berdiri tahun 1899 Masehi. Ketika Madrasah Nizhomiyah yang didirikan oleh KHA Wahid Hasyim (914-1953)  bersama KH Mahfudz Siddiq (1907-1944) sebagai bentuk reformasi pendidikan pesantren tahun 1934 menjadi klasikal atau dimadrasahkan. Pola tersebut mulai mengadopsi sistem kurikulum dengan mempertahankan materi-materi pelajaran khusus (takhasus) 75 persen, ditambah materi-materi pelajaran praktis yang biasa dipakai umum 25 persen seperti keterampilan-keterampilan berbahasa Inggris, berbahasa Indonesia, administrasi, matematika, hingga keorganisasian.

KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) Pengasuh Pesantren Tebuireng

Kepemimpinan utama di Pesantren Tebuireng diambil dari kalangan keluarga (zuriyah) sendiri. Hadratussyekh sangat selektif memilih menantu untuk kelangsungan pesantren. Ia mengambil menantu yang benar-benar pilihan dan dapat menopang kelangsungan pesantren sehingga tidak terjadi perpecahan. Masing-masing menantu tentu memiliki kapasitas keilmuan di bidang masing-masing seperti Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar yang ahli Al Quran, KH Ma’shum Ali yang ahli Shorof, KH Mahfudz Anwar yang ahli ilmu Falak, dan seterusnya. Sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan Pesantren Tebuireng tetap dalam satu komando. Adapun pesantren-pesantren yang berdiri di sekitar Tebuireng pun tidak didirikan oleh keluarga utama, seperti menantu atau santri-santri senior seperti Pesantren Seblak, Pondok Pesantren Walisongo Cukir, Pondok Pesantren Madrasatul Quran, dan lain-lain. Jadi, relasi yang terbangun kemudian adalah saling mendukung dan melengkapi dari program-program pengembangan pesantren dan spesifikasi pendidikan yang dibutuhkan oleh parasantri dari zaman ke zaman.

Terakhir, kepemimpinan di Pesantren Tebuireng mengutamakan musyawarah. Ada musyawarah dewan keluarga dan musyawarah dewan kiai (santri-santri senior). Setiap terjadi pergantian (suksesi) kepemimpinan diutamakan musyawarah.

Dengan demikian, Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari berhasil meletakkan dasar-dasar sistem kepemimpinan dan regenerasi secara ideal sesuai kebutuhan zamannya.

Single Majority

Dari pola dan sistem kepemimpinan demikian pula, tujuan dan cita-cita organisasi/lembaga pendidikan di Pesantren Tebuireng tetap terpelihara, baik tradisi maupun dalam merespon perubahan-perubahan sosial. Dengan sistem dan organisasi yang terjaga, tradisi dan pembaharuan berjalan dinamis. Tidak frontal dan memicu perpecahan. Sehingga pada level organisasi dan lembaga yang lebih besar, Hadratussyekh dan organisasinya tetap menjadi single majority pada zamannya yang tidak bisa ditiru oleh organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga lain. Sebagaimana organisasi yang terlanjur maju dan liberal, tapi meninggalkan akar-akar tradisi. Begitu pula sebaliknya, tetap berpegang kokoh pada tradisi, tapi lamban dalam merespon perubahan.

Maka, tidak salah, jika kemudian berbicara reorganisasi dan regenerasi mesti merujuk kepada Pesantren Tebuireng, tidak kepada pesantren-pesantren lain yang masih mementingkan sistem kepemimpinan tunggal dan lemah dari segi manajerial, apalagi didorong oleh keunggulan spiritual.

Foto Merdeka.com

Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, (1940-2009) adalah salah satu saja di antara peletak dasar reorganisasi dan regenerasi yang diwariskan dari Hadratussyekh. Gus Dur termasuk pelopor yang mampu menyatukan berbagai ragam kepentingan pesantren di samping menyatukan keragaman dalam sistem berbudaya, beragama, berbangsa, dan bernegara yang lahir pada zamannya. Dari Gus Dur, terlahir generasi-generasi yang kokoh, meskipun diakui atau tidak. Ada banyak yang bisa diambil darinya, baik oleh kawan atau lawan politik. Begitu pula, baik dari dalam organisasi maupun di luar organisasi.

Dari segi kepemimpinan nasional, masa Reformasi adalah romantisme tersendiri hubungan antara Gus Dur dan Hj Megawati Soekarnoputri. Keduanya “runtang runtung” menyelami jiwa rakyat Indonesia. Dari desa ke desa, dari majelis ke majelis, dari komunitas satu dengan komunitas lain. Untuk tidak menyakiti hati penguasa “status quo” pada saat itu, Gus Dur tak segan-segan membangun komunikasi bersama Hj Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) kala itu. Mendatangi Presiden Soeharto sendiri, mengunjungi Presiden BJ Habibie hanya sekadar sarapan pagi, dan seterusnya.

Cirebon, 22 Mei 2022.

Editor: Bagus Dilla
Tag/kata kunci: Hadratussyekh KHM Hasyim Asy'ariHadratussyekh KHM Yusuf MasyharPesantren Tebuireng
Artikel sebelumnya

KH Mustofa Acep: Putin dan Reinkarnasi Sejarah

Artikel berikutnya

Antara Saddam Hussein, Gus Dur, dan Buya Said

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Negara Kesatuan Republik Indonesia Samasekali Tidak Pernah Dijajah

21 Agustus 2022
162

Ada sebuah kebiasaan yang salah letak keliru pasang yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang umumnya menyebut frasa 17 Agustus Hari Kemerdekaan...

Selanjutnya

Sosial Kapital, “Never Ending” Pesantren

10 Agustus 2022
165

Pada Haul KH Zainuddin Djazuli di Pesantren Plosomojo, Kediri, Buya Said Aqil Siroj menyebutkan potensi besar yang dimiliki oleh pesantren, berupa...

Selanjutnya

Pesantren: Subkultur yang menjadi Perhatian

6 Agustus 2022
152

Untuk menulis lembaga pendidikan secara umum dan macam macamnya, maka ditulis menjadi "pendidikan Islam". Sementara pesantren memiliki ciri khas tersendiri dengan...

Selanjutnya

Sosialisasi Program dan Pembentukan Majelis Mujahid NKRI

4 Agustus 2022
137

Indramayu-Net26.id - Ketua Majelis Mujahid NKRI Indramayu, H Cecep, Kamis, 4/8/2022, secara aklamasi membentuk kepengurusan dan memimpin rapat sosialisasi program. Dalam...

Selanjutnya

Buya Uki: Pesantren Mati Karena Tidak Ada yang Istiqamah

1 Agustus 2022
146

Indramayu-Net26.id - Perkembangan sebuah pesantren sering mengalami pasang surut, karena biasa tergantung pada satu sosok figur. Hal ini menjadi perhatian serius...

Selanjutnya

Launching Kopi Dingin, Hj Eti Hermawati Harapkan UKM Tumbuh Signifikan

31 Juli 2022
135

Cirebon-Net26.id - Penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) nasional, Buya Uki Marzuki, memandang Cirebon akan menjadi ikon budaya yang signifikan. Hal...

Selanjutnya

Buya Uki: Kopi Dingin Hindari Dehidrasi di Kota Cirebon

31 Juli 2022
133

Cirebon-Net26.id - Hadir di Kota Wali Cirebon akan disajikan oleh suguhan khas atas keragaman. Keragaman itu tidak saja berupa suku-bangsa saja,...

Selanjutnya

Buya Uki Sambut Dr (HC) dr HR Agung Laksono di Cirebon

30 Juli 2022
133

Cirebon-Net26.id - Dalam suasana pulang kampung yang ceria, pertemuan silaturahim itu berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan di salah satu hotel ternama...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Antara Saddam Hussein, Gus Dur, dan Buya Said

Obituari: Buya Syafi'i, Sosok Kalem Pemersatu Bangsa

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Jateng | Net26.id

Jateng | Net26 - Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • UMKM
  • Khusus
    • Berita Khusus
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply