Tabanan-Jatim.Net26.id Bukan hal yang mudah dan gampang, manakala kita hidup sebagai muslim minoritas di tengah-tengah mayoritas nonmuslim. Dengan sosial kultur yang berbeda, sikap dan pemikiran yang tidak sama, akan membuat kita kaum muslimin lebih berhati hati dalam melangkah dan menentukan sikap, terutama hal-hal yang bersentuhan dengan ideologi keagamaan. Karena, jika sedikit saja, kita salah dalam melangkah, maka akan menimbulkan ketersinggungan kalangan mayoritas dan akhirnya akan melahirkan konflik konflik ras, suku, dan agama seperti yang terjadi di Ambon, Poso, dan daerah lain.
Sikap dan perilaku yang arif dan bijaksana dalam memahami posisi sebagai “kaum minoritas” menjadi kata kunci untuk mewujudkan kebersamaan dan keharmonisan masyarakat.
Hal inilah yang melatarbelakangi pemikiran Ismawan, sosok anak muda muslim di Desa Pasekan, Tabanan, Bali. Melalui gerakan keagamaan yang berbasis kepemudaan, ia mulai pelan pelan merangkai simpul demi simpul pemuda pemuda di desanya untuk menghidupkan kembali “Ruh Al Quran” dengan mengadakan kajian kajian Al Quran.
Pada awalnya, Ismawan memulai dengan Tadarrus Al Quran pada setiap malam Rabu di Masjid Nurul Huda Pasekan. Berawal dari tiga orang yang mengikuti pengajian, majelis Jamaah Tadarrus dan Kajian Al Quran tersebut kini sudah mulai ramai dihadiri oleh para pemuda muslim di desa tersebut. Majelis tersebut menjadi media tidak hanya berbicara seputar Al Quran saja, tetapi juga wadah silaturahim antarpemuda muslim yang melahirkan banyak ide dan gagasan dalam konteks “Syiar Keislaman” di Kabupaten Tabanan.
Saat diwawancarai di Masjid Nurul Huda Pasekan, Ismawan menuturkan “Semua butuh proses panjang dan tidak mudah, yang terpenting kawan-kawan pemuda muslim ini mau ngumpul dulu di Masjid. Itu sudah luar biasa, nantinya pelan-pelan dengan sentuhan hati kita ajak mereka untuk menghidupkan Cahaya Islam ini di Pulau Dewata ini.”
Di Pulau Jawa atau di tempat-tempat lain yang mayoritas berpenduduk muslim, tentunya hal tersebut amatlah sangat mudah dan sudah menjadi budaya keseharian di masyarakat, akan tetapi berbeda cerita ketika hal ini terjadi di Pulau Dewata. Butuh perjuangan, waktu, pikiran, finansial, dan metode pendekatan yang superekstra dalam mewujudkan syiar tersebut. Semoga perjuangan ini tidak berhenti di satu titik, tapi terus bergerak dalam memberikan warna untuk menciptakan Peradaban Islam di Pulau Dewata. Dengan langkah langkah terkonsep melalui harmonisasi antarumat dan antaragama, semoga mereka dimampukan dalam membangun dan menjalin cita cita bersama. Amin.















